Artikel ini telah dibaca sebanyak: 142 kali. Terima kasih.

Seorang mahasiswa muda berusia 18 tahun sedang berjuang membayar biaya kuliahnya. Dia seorang yatim piatu, dan tidak tahu ke mana harus mendapatkan uang. Akhirnya dia dapat ide yang cemerlang.

Bersama seorang temannya, ia memutuskan utk menggelar konser musik di kampus guna mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan mereka.

Konser itu mereka adakan dengan mendatangkan pianis besar Ignacy J. Paderewski.
Manajer sang pianis meminta biaya sebesar $ 2.000 untuk konser piano.

Sebuah kesepakatan pun terjadi.
Dua anak muda itu pun mulai bekerja untuk membuat konser sukses.
Hari besar tiba. Paderewski akan melaksanakan konser piano di Stanford University.

Tapi sayangnya, si kedua mahasiswa tidak berhasil menjual tiket sesuai target. Total tiket yang terjual hanya $ 1,600. Keduanya kecewa.

Mereka lalu pergi ke Paderewski dan menjelaskan keadaan mereka. Mereka memberikan seluruh uang $1,600, ditambah dengan cek sebesar $ 400.
Kedua mahasiswa tsb berjanji untuk melunasi cek cepatnya.

“Tidak” kata Paderewski.

“Aku tidak dapat menerima.”

Dia menyobek cek, mengembalikan uang $1,600 sambil berkata kepada kedua mahasiswa,

“Ini uang$1,600 kalian ambil. Gunakanlah untuk biaya kuliah kalian.”

“Aku akan mainkan konser piano tanpa perlu kalian bayar !”

Kedua mahasiswa terkejut, dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Bagi Paderewski, yang dilakukannya adalah tindak kebaikan yang kecil. Tapi jelas itu menunjukkan bahwa Paderewski seorang manusia yang besar.

Mengapa ia harus membantu kedua mahasiswa tersebut yang bahkan dia tidak kenal sama sekali?

Kita semua juga sering menemukan situasi seperti ini dalam hidup kita.

Dan kebanyakan dari kita hanya berpikir “Jika saya membantu mereka, apa yang akan terjadi padaku?”

Kalau seseorang itu benar-benar baik dan bijak, dia akan berpikir,

“Jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi dengan mereka?”.

Orang-orang yang baik dan bijak tidak akan melakukannya dengan mengharapkan balasan.

Mereka melakukannya karena mereka merasa itu adalah hal yang benar yang harus dilakukan.

Sebagaimana diketahui, Paderewski kemudian menjadi Perdana Menteri Polandia.

Dia seorang pemimpin yang besar, tapi sayangnya ketika Perang Dunia I dimulai, Polandia dilanda kelaparan.

Ada lebih dari 1.5 juta orang kelaparan di negaranya, dan tidak ada uang utk memberi makan mereka.

Paderewski tidak tahu ke mana harus berpaling utk minta bantuan.

Dia mengulurkan tangan ke Administrasi Makanan dan Bantuan AS untuk minta bantuan.

Presiden AS saat itu, Herbert Hoover, setuju utk membantu dan cepat dikirim berton-ton bahan makanan untuk rakyat Polandia yang kelaparan.

Akhirnya sebuah bencana dapat dihindari.

Paderewski lega.

Dia memutuskan untuk pergi bertemu dengan Hoover secara pribadi guna berterima kasih kepadanya.

Ketika Paderewski mengucapkan terima kasih kepada Hoover atas sikap mulianya, Hoover cepat menyela dan berkata,

“Anda tidak harus berterima kasih kepada saya, Pak Perdana Menteri.”

“Anda mungkin sudah lupa, tetapi saya tidak akan pernah dapat melupakannya.”

“Beberapa tahun yang lalu, Anda membantu biaya kuliah dua mahasiswa muda di Stanford University. Saya adalah salah satu dari mereka….”

Dunia adalah tempat yang indah.
Apa yang terjadi di sekitar kita biasanya datang dari apa yang telah kita lakukan.

Pada saat kita ada kesempatan untuk membantu sesama, JUST DO IT !!!

1). Jangan pernah menghitung-hitung dan mengharapkan balas budi.

2). Kita tidak perlu tahu dari mana dan dengan cara apa balasan itu akan datang kepada kita.

Sumber: http://amazingreallifeinfo.blogspot.co.id/2014/03/a-time-of-need-story-of-herbert-hoover.html

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 142 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =