Artikel ini telah dibaca sebanyak: 1599 kali. Terima kasih.

Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya. Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal. Biasanya mereka melewati kota P, di mana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian minimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau di warung kecil dengan cahaya lampu remang-remang. Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.

Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu. Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan “ukhti” sebab arti kata ukhti adalah “saudara perempuan” bukan ?

“Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti?” tanya Inara pada suaminya. Sang suami melambatkan laju mobilnya.

“Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?” suaminya balas bertanya.

“Entahlah, bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama.”

“Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada di antara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?”

“Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya, bi. Sebab mereka manusia bukan iblis.”

Sejurus suami Inara terdiam. Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang. Inara sering sekali diundang di sebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber. Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi “Saya bukan ustadzah.” Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan “mbak” atau “bunda”.

Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia di setiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya. Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya. Uang dari ummat akan kembali untuk ummat. Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja di mana hati Inara tergerak untuk memberikannya. Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa sajalah. Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.

“Abi, tolong berhenti di sana, di tempat ukhti yang berdiri sendiri itu !” tunjuk Inara.

“Perempuan yang pakai baju merah itu ?”

“Iya.”

Suami Inara menghentikan mobilnya tepat di hadapan wanita itu. Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil dibuka. Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada di samping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus di belakang stir kemudi. Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah ke belakang. Inara mengambil amplop coklat di jok belakang. Inara turun dari mobil sambil tersenyum. Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara di balik cadar.

“Assalamualaikum, mbak.” sapa Inara.

“Wa’alaikumussalam.” wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara. Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.

“Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak.” Inara mengulurkan amplop coklat ke arah wanita itu. Wanita itu tidak segera menerimanya.

“Apa ini mbak ?” tanyanya pada Inara.

“Tadi saya baru mengisi kajian di kota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya.”

“Apakah mbak tahu siapa saya ?’

“Memangnya mbak siapa ?”

“Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu.” Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.

“Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Di mana hati saya adalah milik Pencipta kita dan berada di dalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa Sang Pemilik Hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini.”

Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur. Inara mendekat, merengkuh pundaknya. Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.

“Semoga yang ada di dalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ketidakhalalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Jawabnya masih dengan terisak.

Inara melangkah menuju mobilnya. Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.


Namaku Amidah. Aku janda yang memiliki 4 orang anak. Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras. Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.

Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya. Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian musholla di dekat kontrakanku. Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.

Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun. Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta per jam. Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 – 200 ribu per malam. Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan. Yah… segitulah harga tubuhku. Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur di belakang kontrakanku.

Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb. Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa, kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan. Anak itu kulihat bersembunyi di balik semak-semak. Tapi malang, bocah itu ketahuan. Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak. Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu. Reflek aku berlari ke arah mereka.

“Stop ! ada apa ini !”

“Dia maling !” kata si laki-laki

“Iyaa… setan kecil ini sudah maling dagangan kami !” si wanita tak kalah sengit.

“Memangnya dia sudah maling apa ?” tanyaku.

“Heh setan maling keluarkan barang curianmu !” bentak si wanita. Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan. Mungkin isinya nasi dan lauk.

“Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar ke dalam sudah dimaling sama setan ini !” si wanita itu kembali menimpali.

“Maaf bu, adik saya lagi sakit di rumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya.” kuperhatikan bocah itu. Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3. Aku tiba-tiba teringat anakku. Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.

“Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?”

“20 ribu !” Jawabnya ketus. Kuambil uang 20 ribu semata wayangku di balik dompet. Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu. Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.

“Awas ya kalo kamu berani maling lagi !” Katanya mengancam, sambil berlalu.

“Terimakasih, tante.” Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.

“Jangan mencuri lagi ya, dek. Semoga adikmu segera sembuh.” Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.

Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku. Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.

“Ya Tuhan, daun pepaya di belakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?”

Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti di hadapanku. Mataku berbinar penuh harapan. Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah ke belakang. Kulihat seorang pria tampan di balik kemudi, namun di sampingnya kulihat ada malaikat bercadar. Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat. Amplop itu ia berikan padaku. Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah. Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang di dalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman. Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.

“Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ? Saya ini sama dengan mbak. Di mana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada di dalam genggamanNYA. Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini.”

“Ya Tuhan… benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !”

Aku langsung bergegas pulang. Di dalam kamar kubuka isi amplop coklat itu. Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu. Li… lima… ju… juta…. !!! 5 JUTA !!! Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!! Ya Allah !! benarkah ini !! Ampuni aku ya Allah !! Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20 ribu, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu. Ahh siapakah bocah kurus kumal itu? Aku juga tak tahu.


Aku Muhammad Yahya. Usiaku 12 tahun. Sejak aku duduk di bangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku. Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku. Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam. Ibu selalu berkata padaku,
“Yahya mengajilah yang rajin. Allah Maha Penyayang. Do’akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah”.
Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku menangis. Setelah menidurkan adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir. Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu. Setelah itu aku membaca Qur’an sambil menunggu ibu pulang. Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu khatamkan Al-Quran. Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur’an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami berempat.

“Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya.”

Entah bagaimana cara Allah menjawab do’a – do’aku. Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini. Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna. Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok. Kini kami telah memiliki warung sembako. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengecap rizki halal. Ketika kutanya, dari manakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako?
Ibu menjawab, “Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar.”

Aku mengernyitkan kening.

“Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu.”


Sore itu selepas ashar,
“Ustadzah Riska !” Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak. Ustadzah Riska menoleh.

“Aku Inara.” Inara langsung mendekat.

“Oohh bunda Inara ! kok bisa ada di sini, habis dari mana ?”

“Aku mencari rumah wanita ini.” Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp. Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Tuhan yang tahu.

“Ooohhh ini bu Amidah. Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?”

“Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?”

“Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ? dia ingin mengakhiri dunia kelamnya. Saya sarankan untuk membuka warung sembako.”

“Uang 5 juta ?” Inara mengulang.

“Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta.”

“Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?”

“Sebab anak-anak bu Amidah mengaji pada saya. Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar.”

“Malaikat bercadar?”

“Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara. Oh ya sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda.” Hati Inara tersentak. Ada yang melonjak di sudut hatinya. Matanya berkaca – kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska. Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya. Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.

“Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini. Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam.”

“Baik bunda, insyaa Allah.”

Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
“Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat.”

Oleh : Irene Radjiman

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 1599 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × three =