Artikel ini telah dibaca sebanyak: 276 kali. Terima kasih.

“Alhamdulillah, aku udah di Jeddah, ini bersiap menuju Madinah, doakan lancar ya, Mba Fitra,” tulisnya di WA yang baru kubaca tadi pagi.

Aku terharu, sangat!

Kisah beliau menurutku layak dibagikan karena sarat inspirasi.

Aku lupa kapan mulai berteman dengannya, yang kuingat, sekitar Maret 2018, dia WA minta ijin ngeprint tulisanku yang berjudul “Sahabat, Berumrohlah!”.

Itu salah satu tulisan yang viral, dibagikan belasan ribu orang kala itu. Aku banyak mendapatkan WA dan inbox positif atas tulisan itu. Alhamdulillah. Tapi temen satu ini punya tempat istimewa di hati, setiap tulisanku terkait ibadah umroh, termasuk soal perlengkapan yang dibawa umroh semuaaaa dia print.

“Kubaca berulang-ulang, biar makin semangat menabung,” alasannya.

Dia, single 36 tahun, adalah guru honor sebuah SMP swasta. Menanggung biaya sekolah 2 ponakannya yang yatim. Gajinya sebagai guru sekolah dan guru bimbel sekitar 3juta. Itu yang dia ceritakan ke aku, waktu dia menanyakan butuh dana berapa buat buka rekening mabrur di bank syariah.

Dan dia punya cara menabung yang unik.

“Aku ikut DikLat, dikasih uang saku 400ribu. Aku titip separoh buat anak asuh yatim ya Mba, kuniatkan ini sebagai tabungan umrohku, semoga Allah ridho,” tulisnya saat menirim bukti trasnfer.

Dan kalimat ini gak sekali dua kali dia tulis.

Sering.

Pernah di pertengahan puasa dia dikasih THR sama ortu murid lesnya, dia nitip ke aku buat dibeliin takjil dan nasi dalam kegiatan bulan ramadhan kemarin. Pernah juga dia transfer lima puluh ribu untuk nasi box buat dibagiin di hari Jumat. Kadang dia transfer 64 ribu untuk 1 alquran waqaf.

“Semua kuanggap sebagai tabungan buat ongkos umroh, semoga Allah ridho,” tulisnya berulang kali.

Aku menyebut ini caranya menabung di ‘langit’.

Sekitar bulan September 2019, dia cerita ke aku kalo dia udah punya passport untuk umroh.

“Ada rejeki 500ribu, mumpung pegang uang dan ada waktu, kubuat aja passport. Jadi kalo mau umroh, udah gak mikirin passport, bikinnya kan antri juga, lagian kan masa pakainya 5 tahun,” katanya.

“Tabungannya udah mulai cukupkah, Mba?” Kepoku.

“Alhamdulillah, tujuh jutaan,” jawabnya.

Dalam hati aku menggumam, PD juga yaa…. masih jauh dari 20jutaan (standar biaya umroh) tapi udah bikin passport. Hebat 👍

Terakhir (sebelum WA hari ini) dia ikut waqaf Alquran buat Maftahul Huda Depok yang kuposting belasan hari lalu, yang mushafnya rusak kebanjiran.
Jadi, dari 138 mushaf yang dikirim ke sana, ada 3 pcs titipan dia.

“Bismillah. Semoga ini jadi penyebab Allah ijabah doaku. Doakan ya Mba, Pengen banget umroh. Semoga dimudahkan, dilancarkan, semoga Allah ridho,” katanya saat mengirimkan bukti transfer 200ribu.

Dan tiba-tiba tadi malam dia udah di Jeddah menuju Madinah. Bersiap melabuhkan rindunya pada mesjid Rasulullah. Aku dikepung rasa haru yang teramat sangat, sekaligus rasa penasaran yang hebat.

Aku tanyakan,

Dan dia jawab.

“Ada ustadz yang memberangkatkan guru ngaji gratis berumroh. Ada jatah gratis buat marbot mesjid juga. Ada jatah gratis buat penyandang disabilitas juga. Aku ikut bantu-bantu mulai dari tahap seleksi dokumen, survey lapangan, sampai persiapan lain-lainnya,” (pesannya terputus. Sekian jam aku tunggu, baru ada lanjutannya)

“Istri pak Ustadz tanya ke aku “ibu pengen umroh? Sudah ada dana berapa?” Kujawab “udah lama pengen banget. Ini tabunganku”. Kebetulan buku tabungan mabrur memang selalu ada dalam tasku. Aku liatin saldo ke bu ustadzah,”

“Sisanya aku yang bayarin, ibu lengkapi berkas-berkas adminitrasi yaa, mudah-mudahan keburu,” itu jawab bu ustadzah.

“Ya Allah. Aku nangis mba Fitra. Kaget. Gak nyangka. Waktunya udah mepet banget, tinggal berapa minggu doang. Besok paginya aku langsung suntik meningitis. Untunglah passport udah ada, foto juga udah punya pas bikin passport dulu, jadi gak repot2 amat.” Tulisnya

“Makanya aku mendadak gini berangkatnya. Tapi insyaa Allah aku udah dua taun rajin baca-baca tulisan tentang umroh. Suka nonton youtube cara thawaf, dll. Untuk perlengkapan yang dibawa, aku udah hafal, aku ulang-ulang baca tulisan mba Fitra dulu. Jadi walau mendadak, insyaa Allah gak grasak grusuk.” Tulisnya lagi.


Membaca chatnya, tiba-tiba kusadari mataku membasah, pun hatiku. Aku dipeluk sejuta syukur dan haru. Aku dilanda kekaguman, betapa MAHA AGUNGNYA ALLAH.

Aku merinding membaca ulang chatnya,,,masyaa Allah, sungguh nyata janji Allah.

Ada dua type yang ingin berumroh. Pertama, yang sekedar pengen-pengen aja. Ke dua, yang bener-bener pengen, yang bener-bener mau.

Type ke dua ini, biasanya selain istiqomah dalam doa, juga istiqomah dalam usaha. Temenku ini termasuk type yang ke dua ini. Usahanya bahkan ada dua, menabung di bumi dan menabung di langit. Tabungannya masih sepertiga dari biaya umroh yang dia ikuti, tapi Allah kirim jembatan penghubung, untuk mencukupkannya.

Allah memampukan hambaNya yang beneran mau.

Maka, kalo kita liat ada yang berumroh, jangan nyinyir bilang “ahh aku mah mending bantu orang yang susah, mending bangun mesjid, mending bantu yatim, daripada maksain umroh yang hanya buat sendiri aja,”

Kita gak tau…mereka yang berumroh itu adalah mereka yang diam-diam telah menabung duluan untuk umroh di kotak amal mesjid, menabung untuk umroh di tangan anak yatim, menabung untuk umroh di sebuah mushaf Alquran.

Dia menabung dengan caranya. Dan Allah yang Maha Teliti, Maha Melihat, Maha Melipatgandakan balasan kebaikan…mengijabah doaNya, dengan cara tak terduga.

Masyaa Allah. Allahuakbar.

By: Fitra Wilis Masril

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 276 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =