Artikel ini telah dibaca sebanyak: 339 kali. Terima kasih.

Kemajuan bulu tangkis Jepang tak diraih dalam waktu singkat. Mereka amat serius melakukan pembinaan usia muda. 

Negeri Sakura pun telah memetik buah manis dari hasil pembinaan yang dilakukan. Mereka sukses mengantarkan para pemainnya di urutan atas dunia. 

Jepang memiliki Kento Momota sebagai pemain nomor satu dunia di tunggal putra. Di nomor lainnya, nama-nama atlet Jepang juga bertengger di peringkat 10 besar. 

Republika pada Jumat (7/2) berkesempatan mengunjungi Futaba Future School di Hirono Town, Prefektur Fukushima, Jepang. Sekolah yang sebelumnya bernama Tomioka itu merupakan tempat Kento menimba ilmu. Nama Tomioka diubah seiring dipindahkannya lokasi sekolah dari Tomioka Town ke Hirono karena terdampak bencana dahsyat yang melanda Fukushima pada 2011.

Di sekolah itulah Kento mengasah kemampuannya sebagai atlet bulu tangkis. Ia ditempa pelatih asal Indonesia, Imam Tohari. Imam kemudian sukses mengantarkan Momota menjadi juara dunia junior pada 2012. 

Bulu tangkis jadi salah satu jurusan bagi siswa kelas menengah atas di sekolah itu. Siswa yang mengambil jurusan olah raga tepok bulu, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berlatih. Sementara di level menengah pertama, bulu tangkis jadi ekstrakurikuler. Meski masih sebatas ekstrakurikuler, jadwal latihan bulu tangkis bagi siswa SMP cukup padat. 

“Siswa yang mengambil jurusan bulu tangkis, kegiatan utama mereka ya berlatih bulu tangkis,” kata Wakil Kepala Sekolah Futaba Future School Nango Ippei kepada wartawan asal Indonesia yang mengikuti program Jenesys 2019. 

Selain berlatih, para siswa dituntut memberikan kontribusinya ke masyarakat lewat bulu tangkis. Mereka turun ke masyarakat untuk melatih anak-anak kecil bermain bulu tangkis. Ini jadi salah satu cara sekolah di Jepang membumikan bulu tangkis. 

“Selain anak-anak kecil, mereka mengajak lansia bermain bulu tangkis. Kami berharap mereka tak hanya berprestasi sebagai atlet, tapi juga memiliki kontribusi bagi masyarakat,” kata Nango.

Wakil Kepala Sekolah Futaba Future School Nango Ippei menunjuk nama Kento Momota di papan daftar alumnus sekolah.

Nango mengatakan, Kento bukan satu-satunya alumnus Tomioka. Pemain ganda putra Yuta Watanabe yang berada di peringkat enam dunia juga lulusan sekolah itu. Pemain lainnya adalah Arisha Higashino sebagai peringkat empat dunia bersama Yuta Watanabe di ganda campuran. Ketiga atlet itu bakal berlaga di Olimpiade 2020 Tokyo. 

Pemimpin Klub Bulu Tangkis Futaba Future School, Saito, menjelaskan, siswa SMP berlatih bulu tangkis selama tiga jam dalam sehari. Mereka berlatih setiap pagi sebanyak dua kali dalam sepekan. Terkadang ada juga latihan sore. 

“Sementara bagi siswa SMA jurusan olahraga dengan spesialisasi bulu tangkis, latihan digelar empat jam dalam sehari,” kata Saito. 

Belajar dari Indonesia, kini lampaui Indonesia

Saito mengaku telah memimpin klub bulu tangkis Futaba sejak 2006 atau saat masih bernama Tomioka. Ia menjadikan bulu tangkis Indonesia sebagai rujukan. Pelatih-pelatih Indonesia pun didatangkan. 

Dia menceritakan, pelatih Indonesia pula yang melihat Kento Momota memiliki bakat dan potensi besar di bulu tangkis. 

“Kento Momota masuk di sini 2007.  Waktu itu tinggi badannya 150 cm. Menurut pelatih dari Indonesia saat itu, Momota punya bakat luar biasa,” kata Saito. Pelatih yang dimaksud, yaitu Imam Tohari. 

Menurut Saito, bulu tangkis Indonesia contoh ideal bagi Jepang. Atas alasan itulah, ia pada 2008 membawa anak-anak asuhnya menjalani pemusatan latihan di Indonesia, tepatnya di Surabaya. Bahkan, kata dia, Kento dan Watanabe juga mengikuti pertandingan internasional pertamanya di Surabaya. 

“Atlet bulu tangkis Indonesia punya teknik bermacam-macam. Kami ingin seperti atlet Indonesia,” katanya. 

Menurut Saito, Kento Momota pun amat senang dengan gaya permainan bulu tangkis Indonesia. “Momota pernah bilang bulu tangkis ala Indonesia cocok buat dia. Punya berbagai teknik yang bagus,” ujar Saito. 

Saat ini, Futaba memiliki dua pelatih asal Indonesia. Keduanya, yakni Stephanus Ricki Kristiawan dan Antar Kurnia. Ricky merupakan mantan pemain PB Tangkas. Sedangkan Kurnia merupakan mantan pelatih di Taufik Hidayat Arena. 

Kurnia mengatakan, metode latihan yang diterapkan sama dengan yang ada di Indonesia. Menurut dia, bulu tangkis Jepang semakin bersaing berkat sikap kedisiplinan dan kegigihan para atletnya. 

“Yang mungkin harus dicontoh itu soal disiplin. Kedua, semangat. Ketiga, kemauan atlet memang sangat besar untuk menjadi pemain hebat. Tidak ada pemain Jepang yang manja,” kata Kurnia.

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 339 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × two =