Artikel ini telah dibaca sebanyak: 440 kali. Terima kasih.

NIAID Integrated Research Facility (IRF) merilis hasil mikroskop wujud virus corona SARS-CoV-2. Foto tersebut merupakan hasil penelitian terhadap seorang pasien di Amerika Serikat yang diisolasi karena positif COVID-19.

Partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengumumkan bahwa COVID-19 menjadi nama resmi penyakit yang disebabkan oleh virus corona terbaru yang pertama kali mewabah di Wuhan, China. COVID-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019.

Gambar mikroskop elektron pemindaian bertanggal menunjukkan SARS-CoV-2 (bulat emas). Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS

WHO memberi rincian atas singkatan itu. CO mengacu pada corona, VI mengacu ke virus, lalu D adalah disease atau penyakit, dan 19 adalah tahun ketika wabahnya pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember 2019.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan penamaan penyakit kali ini tidak merujuk kota Wuhan yang menjadi pusat epidemi. Nama COVID-19 juga dinilai lebih mudah diingat.

Gambar mikroskop elektron transmisi ini menunjukkan SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS

Virus corona baru penyebab COVID-19 sendiri diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau disingkat SARS-CoV-2. Kelompok peneliti mengakui kesamaan coronavirus baru dengan pandemi sindrom pernapasan akut parah (SARS) yang terjadi antara 2002-2003.

Berikut adalah hasil foto mikroskop SARS-CoV-2 dari NIAID IRF yang dipublikasikan Reuters:

Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari pasien yang diisolasi di Amerika Serikat. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Mikrograf elektron scanning berwarna menunjukkan sel apoptosis (hijau) yang sangat terinfeksi partikel virus SARS-COV-2 (ungu). Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari pasien yang diisolasi di Amerika Serikat. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Gambar mikroskop elektron pemindaian ini menunjukkan SARS-CoV-2 (biru bundar) Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari pasien yang diisolasi di Amerika Serikat. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Sebuah mikrograf elektron transmisi yang tidak bertanggal dari partikel virus SARS-CoV-2 yang diambil dari pasien yang diisolasi di Amerika Serikat. Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS
Gambar mikroskop elektron scanning tanpa tanggal menunjukkan SARS-CoV-2 (kuning). Foto: NIAID Integrated Research Facility (IRF) via REUTERS

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 440 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + 9 =