Artikel ini telah dibaca sebanyak: 637 kali. Terima kasih.

Lailatul Qadar merupakan salah satu anugerah Allah untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedudukan malam itu semua amal ibadah dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala. Banyak orang mencari Lailatul Qadar mengingat keutamaannya yang sangat mulia.

Banyak yang bertanya, kapan turunnya Lailatul Qadar? Pertanyaan ini selalu mencuat setiap tahun di bulan Ramadhan. Ulama dari Mesir Syeikh Ahmad Al-Misri dalam tausiyah online di Masjid Raya Bintaro Jaya Tangerang Selatan mengatakan, ada 64 pendapat para ulama yang menjelaskan kapan turunnya malam Lailatul Qadar itu.

Di antaranya yang masyhur adalah terdapat di 10 malam terakhir Ramadhan. Ada yang mengatakan dia berpindah-pindah. Ada yang mengatakan dari awal Ramadhan. Ada yang mengatakan di malam ganjil di 10 hari terakhir. Ada yang bilang di malam genap. Ada yang bilang lagi malam 27.

Banyak masyhur di antara para ulama itu malam 27. Namun, karena ada sahabat yang bertengkar sehingga Allah Ta’ala membuat Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam lupa menyampaikan malam Lailatul Qadar itu. 

Berarti pendapat yang kuat dari para ulama, Lailatul Qadar ada di 10 malam terakhir, bisa jadi ada di malam ganjil, bisa jadi ada di malam genap. Menurut Mazhab Syafi’i, Lailatul Qadar itu ada di 10 malam terakhir dan tidak berpindah-pindah. Tetapi ada ulama dari Mazhab Syafi’i mengatakan kadang berpindah-pindah di 10 malam terakhir. Artinya bisa di malam 21, bisa di malam 22, artinya berpindah-pindah.

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar:

1. Matahari terbit di pagi hari tanpa sinar yang terik. Kenapa? karena Malaikat itu turun ke bumi jadi ketutup.
2. Bulan akan muncul di malam ini (malam Lailatul Qadar) nampak separuh, maka kita bisa mencarinya.
3. Malam itu tidak dingin, tidak panas, tetapi sejuk.
4. Tidak ada pelemparan bintang pada malam itu sampai pagi hari. Sebab, kalau ada bintang melempar ke bumi itu melempar setan karena ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir, setan berusaha mencuri berita dari langit sehingga Malaikat melempar bintang ke setan agar tidak mencuri berita langit lagi.

Kata Syeikh Ahmad Al-Misri, ada sebagian tanda-tanda yang beredar di masyarakat, meskipun disebutkan dalam kitab-kitab fiqih tetapi tidak boleh sembarangan menyebutkan ini disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Dikatakan pada malam itu semua pohon merunduk, kalau sudah lewat Lailatul Qadar tegak lagi. Itu diceritakan oleh ulama tapi kita tidak punya dalil yang sahih.
2. Dikatakan pada malam itu air laut biasanya asin, pada pagi hari air laut menjadi tawar. Tapi tidak ada dalil yang kuat.
3. Tidak terdengar suara anjing, tidak terdengar suara keledai.
4. Dikatakan pada malam itu semua Malaikat turun dalam menyalami semua orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar pada malam itu. Itu kita tidak temukan dalilnya. Hanya Malaikat turun membawa keselamatan.

Semua itu disebutkan oleh para ulama, tetapi tidak berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lailatul Qadar bisa dilihat dengan mata telanjang dari tanda-tanda yang kita sebutkan tadi atau bisa bermimpi, ada atsar-atsar yang mutawatir bahwa ada sebagian orang beriman sudah mimpi, sudah melihat.

Imam An-Nawawi kecil juga disebutkan bisa melihatnya di kisah biografi Imam Nawawi pengarang Kitab Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Hadits Arba’in, dan lain-lain. Artinya orang-orang saleh, para wali yang levelnya dekat dengan Allah Ta’ala mereka ini merasakan dengan hati turunnya Lailatul Qadar, karena di malam itu berasa.

Catatan yang Harus Diperhatikan
Barang siapa melihatnya langsung atau merasakannya, dianjurkan untuk menyembunyikannya. Kata Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ jilid 6 halaman 453, dianjurkan bagi mereka yang melihat, merasakan, mimpi Lailatul Qadar lebih bagus disembunyikan. Kenapa harus disembunyikan? Berikut alasannya:

1. Ini karamah. Karamah disembunyikan bukan untuk dipamerkan.
2. Agar tidak termasuk ujub dan riya’ di dalam hati orang tersebut, khawatir nanti orang menganggapnya waliyullah.
3. Agar tidak menjadi orang malas. Terbersit di hati, kemarin sudah ketemu malam Lailatul Qadar, buat apa saya salat lagi.
4. Agar menjaga diri kita dari sifat hasud. Orang bisa hasud sama kita, dengki sama kita.

Hikmah menyembunyikan malam Lailatul Qadar agar orang bersungguh-sungguh beribadah di 10 malam terakhir dan tidak mengkhususkan malam tertentu. Mereka akan senantiasa berusaha mencari ridha-Nya Allah Ta’ala.

Apa yang disyariatkan di malam tersebut?

1. Berusaha mencari tanda-tandanya.
2. Menghidupkan malam tersebut dengan ibadah.
3. Berdoa sebagaimana dalam riwayat Imam at-tirmidzi :

اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.

“Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, dan menyukai memberikan maaf, maafkanlah aku”.

Wallahu A’lam

Foto: 26 Ramadhan 1441H (19 Mei 2020), 07:45 WIB
Foto: 26 Ramadhan 1441H (19 Mei 2020), 07:45 WIB
Foto: 26 Ramadhan 1441H (19 Mei 2020), 07:45 WIB

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca sebanyak: 637 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =