Artikel ini telah dibaca 14237 kali. Terima kasih.
fear factor yg saya maksud adalah rasa takut atau kekhawatiran dalam menyampaikan gagasan atau ide-2 positif kepada managemen, dosen, senior, baik secara terbuka maupun tertutup. rasa takut dalam berdiskusi atau mengritisi suatu pendapat orang lain yg memang seharusnya dikritisi. juga rasa takut utk mengomunikasikan masalah-2 keluarga dengan pasangan-2 (resmi) kita. dan rasa takut- rasa takut lainnya yg sejenis.
sebenarnya, sah-2 saja atau normal bila kita memiliki rasa takut seperti di atas. hanya saja, bila rasa takut tersebut menjadi sangat dominan, maka ia akan membunuh kreatifitas ide atau gagasan positif yang kita miliki. bila kondisinya parah atau akut, maka kepribadian yg akan terbentuk pada diri kita adalah kepribadian-kepribadian apatis, abs (asal bos senang), status quo, positif thinking yang negatif dan yg sejenisnya.
pertanyaannya, mengapa hal tersebut bisa terjadi pada diri kita? ada banyak sebab yg bisa menjadikan kita memiliki rasa takut spt itu. antara lain:
- knowledgeless, yaitu sedikitnya pengetahuan yang kita miliki terkait topik atau tema yg menjadi bahan perdiskusian atau apa yg mau kita kritisi. sudah pasti kita akan gak konek mau masuk dari mana untuk bisa nimbrung (ikutan) dalam pembicaraan. terlebih memberikan kritik dan saran. pada kondisi ini kita akan khawatir atau takut mengemukakan gagasan.
-
adanya kekhawatiran akan “dihukumi” oleh pendengar atau lawan bicara sebagai seseorang yg asbun (asal bunyi) dan sejenisnya. karenanya, kita akan cenderung menjadi pendengar yg setia sambil mengangguk-angguk yg nggak jelas.
-
negative thinking yg tidak berdasar. biasanya perasaan ini muncul ketika lawan bicara kita adalah senior atau bos atau dosen (pembimbing) kita yg memiliki pengaruh yg kuat. ada kekhawatiran yg berlebihan akan dibuat susah hidupnya seandainya dia mengritisi atasan-2nya. khawatir akan dipersulit promosi jabatannya atau dipersulit kelulusannya dan sebagainya.
-
out of main stream atau tidak populis. intinya tidak berani melawan arah arus. memang butuh energi yg besar utk bisa melawannya. energi yg pas-2an akan membuat kita justru terbawa oleh arus. jadinya dari pada terbawa arus, kita cenderung stay on the position (berhenti di tempat or do nothing) as a good listener.
-
negative positive thinking. ini bahasa kerennya pasrah bongkokan atau ape elo kata deh. i follow u wherever you go, whatever you do…
-
no concern atau ndak punya minat terhadap tema atau topik yg sedang menjadi hot isue.
-
dan lain-lain…
so, what is the countermeasure? i bet, you can find it by yourself. just do it! smile
Artikel ini telah dibaca 14237 kali. Terima kasih.
