Artikel ini telah dibaca 4694 kali. Terima kasih.

mental_absencesudah lama saya ingin menuliskan yang satu ini. tapi selalu terlewati dengan tema-2 yg lain. dan sekarang mumpung teringat lagi dalam benak saya, maka saya coba tuangkan dalam tulisan di blog ini. kalau dalam diskusi atau secara lisan sudah pernah saya sampaikan beberapa waktu yg lalu saat otw ke kampus ke teman saya.

saya yakin, di antara pembaca ada yang sudah bisa mereka-reka apa yg akan saya tulis terkait dengan tema kali ini.  mudah-2an ini bisa semakin menambah value bagi yg sudah memahaminya. semoga…

ketika kita berbicara ttg “mental” maka yg sering muncul dibenak kita adalah hal-2 yg terkait dengan “aspek kejiwaan”. Tergantung ia mau dipadankan dengan kata apa, maka artinya pun akan mengikuti padanan kata tadi. Misalnya “mental tempe” bermakna atan berkonotasi negatif terkait dengan kecerdasan yg low level (rendah).

Ada juga “mental karbitan” yg bermakna mental/kejiwaan yg dibuat-2 atau dikamuflase atau hasil imitasi mental orang menjadi mental kita.

Lalu apa makna sesungguhnya dari “mental absen” yg menjadi topik/judul dari tulisan ini?

ini bukan bermakna retardasi atau cacat mental. atau mentalnya kurang lengkap. Bukan! Tapi tetap terkait dengan aspek kejiwaan sesorang. Ia menjadi salah satu dari sekian banyak faktor penentu kesukseskan kita di lingkungan mana pun kita berada. Di rumah, kampung, kampus, kantor atau di tempat-2 lainnya. Kita bisa melihat perbedaan yg sangat signifikans antara orang-2 yg terjangkiti “mental absen” dengan orang-2 yg bebas dari itu.

Arti “mental” sendiri sudah dijelaskan di atas. sedangkan “absen” bermakna (umum) “tidak hadir” atau “mangkir”. Jadi, secara simple kita bisa mengartikan “mental absen” itu “kemangkiran jiwa/mental”. Ilustrasinya gini… ingat aja pas kita sekolah dulu. saya yakin diantara kita pernah ada yang mangkir atau mbolos sekolah tanpa surat izin atau pemberitahuan sebelumnya. mbolosnya kita saat itu adalah ketidakhadiran fisik kita di sekolah. nah, kali ini yg mbolos adalah bukan fisiknya melainkan mentalnya atau pikirannya atau jiwanya. Bukan jasad yg tak bernyawa lalu berkeliaran lho, ya…? Pada kasus mental abses itu fisiknya sih datang ke kampus atau kantor secara ontime. tapi, mentalnya atau jiwanya tidak ikut ke kampus atau kantor. ia (jiwa) terpisah dengan fisik kita. Mungkin masih berada di rumah dan boleh jadi mungkin masih tidur. Atau gentayangan entah ke mana…

lalu, apakah salah datang ke kantor/pabrik cuman mbawa fisiknya saja tanpa membawa jiwanya? Tidak salah. Orang-2 yg datang ontime ke kantor meskipun tanpa jiwa yg melekat dengan fisiknya sekalipun sudah memenuhi requirement yg dibutuhkan oleh perusahaan. Ijab qobul (perjanjian) antara karyawan dengan perusahaan sudah terpenuhi dengan hadirnya fisik kita. Justru, malah aneh kalo yg datang cuman jiwa saja tanpa fisik menyertai. Gimana bisa ter-record absensi kita? Betul, nggak?

Lantas, dimana dong salahnya? Sekali lagi, ndak ada yg salah. Cuman, idealnya kita datang ke kantor itu seharusnya dengan keduanya, yaitu dengan fisik juga, dengan jiwa juga. Ini sangat penting dan akan mempengaruhi produktifitas kinerja kita dalam satu hari itu orang-2 yg datang ke kantor (atau kampus, rumah ibadah dll) hanya dengan fisiknya saja, biasanya:

1. Datang sekedar menggugurkan kewajiban karena terikat dengan ijab qobul (perjanjian)
2. Tidak tahu apa yg seharusnya dikerjakan selama berada di kantor
3. Tidak fokus dalam bekerja
4. Banyak melakukan aktifitas-2 yang tidak efisien dan tidak efektif
5. Sangat senang kalo hari itu dia tidak ditanya-2 oleh teman atau atasan terkait pekerjaannya
6. Umumnya bekerja kalo mendapat perintah dari atasan saja atau tidak punya inisiatif
7. Sangat-2 tidak mandiri, selalu mengharapkan gaidans dari setiap orang
8. Males berfikir yang rumit-2 (ndak pernah atau jarang nulis SS…)
9. Suka numpuk-2 atau nunda-2 pekerjaan
10. Nggak peka dengan kondisi lingkungan yg abnormal

Sekarang, gimana kita bisa tahu kalo kita tidak sedang terjangkiti penyakit “mental absen” ini? Gampang! Hapal baik-2 10 gejala di atas. Lalu tanyalah diri kita dengan 10 pertanyaan itu dan jawablah dengan hati yg jujur. Bila ada 1 saja yg matching dengan keseharian kita di kantor, maka itu pertanda kita sedang menderita penyakit yg namanya “mental absen”.

Kalo sudah terjangkiti penyakit “mental absen” ini bagaimana menyembuhkannya? Saya yakin, para pembaca sudah sangat tahu apa yang harus dilakukan masing-2…

Semoga selalu bisa menjadi bahan renungan kita setiap saat… di mana pun dan kapan pun kita berada…

Artikel ini telah dibaca 4694 kali. Terima kasih.

Leave a Reply