Artikel ini telah dibaca 351 kali. Terima kasih.

Di tengah-tengah saya sedang mempelajari salah satu teori yang terpenting di abad ini: “Job Theory” datang kabar duka, penggagas teori tersebut, Prof. Clayton Christensen, meninggal 23 Januari 2020, pada usia 67 tahun karena leukemia.

Professor Christensen dari Harvard Business School adalah seorang pemandu jalan bagi para inovator. Bukunya “Innovator’s Dilemma,’ HBS, 1997 adalah sumber inspirasi bagi para inovator besar dunia termasuk Steve Jobs. Buku terbarunya yang berjudul “Competing Against Luck,” HBS, 2017, judul bahasa Jepangnya “ジョブ理論( Job Theory), menjelaskan tentang mekanisme sebuah produk inovasi bisa berhasil atau hilang. Bisa jadi ini teori yang paling banyak secara berulang kali saya baca dan pelajari setelah teori medan elektromagnetiknya Maxwell.

Menurut Christensen buku ini lebih penting dari buku “Innovator’s Dilemma” bagi para inovator yang ingin mengembangkan bisnis berbasis inovasi. Menurutnya sebuah inovasi untuk bisa menjadi besar berlaku hukum sebab-akibat; ada mekanisme yang menjelaskan sebuah proses yang terkait dengan pekerjaan (job to be done) bagi klien untuk memperkerjakan hasil inovasi itu. Sebuah inovasi bisa menjadi besar (thrive) atau tetap kerdil atau bahkan nyungsep (fail) sangat terkait dengan mekanisme sebab-akibat itu, bukan sekedar environment atau framework yang mendukung bagi besarnya inovasi itu seperti yang dibahas dalam buku sebelumnya “Innovator’s Dilemma.”

Menurut “Job Theory” inovasi adalah sebuah proses mekanistik, bukan statistik. Saya setuju. Ambil contoh, keberhasilan 60% dengan sampel 100 secara random, tanpa tahu mekanisme apa yang melatarbelakangi keberhasilannya atau kegagalannya, adalah statistik, dengan kata lain, keberuntungan (luck). Kalau mekanismenya bisa diketahui secara detil, maka keberhasilan itu bisa diulang dengan tingkat keyakinan yang tinggi, bukan sekedar keberuntungan. Seperti ucapan Einstein yang terkenal: “God does not play dice.”

ECCT dikembangkan dengan metode mekanistik, dengan menganalisa semua faktor yang dianggap penting yang melatari sesuatu bisa terjadi, bukan berdasarkan randomized clinical trial. Kaca mata random tak bisa digunakan untuk menjelaskan fakta bahwa kasus pertama penderita kanker stadium 4 yang dipakaikan ECCT berhasil mencapai survival 10 tahun dalam keadaan remisi dan kondisi kualitas hidup yang, alhamdulillah, bisa dikatakan sempurna. Fakta itu menjelaskan bahwa mekanisme yang dijalankan bukanlah random (orang Jepang menyebutnya “randamu,” artinya “ngawur”).

Dalam metode mekanistik setiap proses yang diambil dalam setiap tahapan yang merupakan bagian dari mekanisme itu dipilih berdasarkan “best knowledge,” calculated opportunity, bukan random, sehingga bisa diulang. Tentu saja setiap pilihan tak ada yang mutlak, pilihan itu hanyalah berdasarkan perhitungan ilmiah/sains, dan tak ada yang 100% di dalam sains. Orang yang beriman menyebutnya ijtihad ilmiah. Bagusnya kita orang yang beriman tak perlu putus asa untuk tidak harus mencapai 100%, karena tidak akan bisa mencapai 100%; kekurangannya selalu kita serahkan kepada Allah SWT.

Kalau kita bisa fahami mekanismenya dengan detil, maka kita bisa menentukan eksklusi maupun inklusi dalam sebuah trial yang mendukung hasil positif berdasarkan mekanisme yang difahami, hasilnya jadi bisa diprediksi. Tetapi kalau kita bisa memahami mekanisme dengan baik dan bisa memprediksi hasil, apa gunanya randomized trial? Lagi pula melakukan terapi terhadap penderita kanker bukanlah seperti melempar koin ke udara untuk mendapatkan lotere salah satu muka koin; tetapi harus difahami seperti seseorang yang menghadapi sebuah mata koin dan mengetahui kalau koin itu dibalik jadinya apa.

Soal randomized clinical trial menjadi syarat bagi Kemenkes untuk menerbitkan izin edar adalah urusan lain. Untuk ECCT randomized clinical trial akhirnya hanya bersifat administratif, sekedar syarat administrasi, karena dengan pemahaman yang dalam tentang mekanisme kita bisa tahu mana yang bisa merespon dengan baik mana yang tidak, mana yang akan berhasil dengan baik mana yang tidak, dengan keyakinan yang cukup berbasis best knowledge, selebihnya di luar kontrol kita sebagai manusia. Ini memang lebih berlaku untuk alat kesehatan, karena mekanisme interaksi yang terjadi antara alat dengan subyek sangat prediktif, berbeda dengan interaksi molekul obat dengan sel tubuh sangat sulit diprediksi secara akurat. Karenanya aturan trial alkes di EU dirubah jadi jauh lebih mudah, orientasinya jadi lebih untuk menegakkan protokol, aturan penggunaan alat yang optimal.

Professor Christensen telah menjabarkan secara detil bagaimana sebuah inovasi menjadi sebuah mekanisme dan proses yang bisa dipelajari dan direproduksi, bukan melulu keberuntungan statistik. Beliau adalah bagaikan sebuah dayung bagi biduk para inovator yang sedang mengarungi lautan statistik “struggle for the fittest” ala Darwin.

Suatu ketika persamaan berikut akan berlaku:

ECCT&ECVT = MAXWELL + CHRISTENSEN

Selamat jalan, Prof.

Warsito Purwo Taruno

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 351 kali. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =