Artikel ini telah dibaca 457 kali. Terima kasih.

Bukan kali ini saja, kelelawar menjadi tersangka atas merebaknya sejumlah virus mematikan di dunia. Bahkan, para ahli telah memperingatkan sejak lama, jauh sebelum munculnya virus corona ( Covid-19) di Wuhan, China.

Pernyataan para peneliti di South China Agricultural University yang mengidentifikasi trenggiling sebagai pembawa virus corona, mengundang berbagai reaksi para ahli.

Melansir Science Media Centre, Jumat (14/2/2020), para peneliti di universitas tersebut mengatakan hasil penelitian mengidentifikasi kemungkinan pangolin sebagai inang virus Covid-19.

Namun, Profesor Andrew Cunningham dari Zoological Society of London mengungkapkan dari bukti virologi saat ini, virus hampir pasti berasal dari spesies kelelawar.

“Sangat mungkin, virus yang relatif bebas, memilih berpindah dari kelelawar ke trenggiling, atau spesies lain,” kata Cunningham.

Virus bisa saja muncul di pasar dengan lingkungan yang basah, atau kondisi tempat serupa yang tidak wajar. Kemudian virus melompat dari trenggiling ke manusia.

Salah satunya pernah terjadi pada penyebaran virus Hendra, Hendra paramyxoviruses.

Virus ini awalnya diketahui dibawa oleh kuda, namun ternyata virus tersebut berasal dari kelelawar, lalu melompat ke kuda, selanjutnya menginfeksi manusia.

Meskipun semua manusia yang diketahui telah terinfeksi oleh virus Hendra dari kuda, ternyata virus itu masih merupakan virus kelelawar.

“Sebagian besar hewan hidup dari spesies berbeda dan tertahan di kondisi yang penuh sesak dan tidak higienis, kemudian seekor binatang datang membawa virus zoonosis yang berpotensi meningkat,” jelas Cunningham.

Lingkungan ideal virus dari kelelawar

Pasar hewan liar hidup seperti di China, kata Cunningham, memiliki kondisi yang basah. Tidak mengherankan jika tempat tersebut menjadi tempat ideal munculnya virus zoonosis.

“Seperti halnya SARS, virus corona baru (Covid-19) yang diperkirakan muncul di pasar itu,” sambung Cunningham.

Dia menyarankan pentingnya pengaturan dan pengawasan ketat terhadap perdagangan satwa liar legal di masa depan. Sebab, itu merupakan prioritas tertinggi untuk perlindungan kesehatan manusia.

Dalam sebuah makalah yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada 11 Maret 2019 lalu, mengungkapkan populasi kelelawar yang dapat mengancam kesehatan global dan keamanan pangan.

Kelelawar telah berkontribusi besar pada kematian ribuan orang akibat virus yang ditularkan dan mewabah di sejumlah negara.

Cunningham mengatakan ada banyak alasan kuat untuk menjadikan kelelawar sebagai sumber banyak virus zoonosis yang baru muncul.

Kelelawar diburu secara luas sebagai sumber makanan. Bahkan, baik jumlah orang yang mengonsumsi kelelawar, maupun jumlah kelelawar yang diburu terus meningkat selama beberapa tahun terakhir.

Virus dari kelelawar yang ditularkan menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah, seperti SARS. Bahkan virus corona di dalam tubuh kelelawar juga telah menyebabkan munculnya sindrom diare babi akut (SADS-Cov) dan filovirus Ebola dan Marburg.

Menurut peneliti dalam makalah Bat Research Networks and Viral Surveillance: Gaps and Opportunities in Western Asia, secara morfologis, kelelawar memiliki keunikan.

Sebagai satu-satunya mamalia terbang, ada kemungkinan kelelawar memiliki kombinasi faktor fisiologis, imunologis dan riwayat hidup lainnya.

Kelelawar diketahui memiliki beragam kumpulan virus, sedikitnya ada 24 keluarga virus yang berkembang di tubuh mamalia ini. Satu kelompok virus paling utama yakni virus corona (CoVs), yang sebelumnya telah menjadi biang munculnya wabah SARS-CoV dan MERS-CoV.

Kelelawar kemungkinan merupakan inang asal evolusi dari α dan β-CoV dan mungkin semua Coronaviridae, termasuk dugaan inang nenek moyang dari beberapa CoV dengan signifikansi manusia dan pertanian.

Terutama Human CoV-NL63, Human CoV-229E, virus diare epidemi babi (PEDV) ), SARS-CoV, MERS-CoV dan SADS-CoV.

Kelelawar memiliki keanekaragaman CoV yang cukup besar, dan merupakan sumber evolusi yang paling mungkin dari MERS-CoV yang ditularkan dari unta.

Namun, ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa SARS-CoV adalah virus dengan asal usul evolusi kelelawar yang pertama kali muncul di pasar basah China selatan pada tahun 2002.

Akan tetapi, juga terus menimbulkan risiko di wilayah tersebut dengan bukti adanya spillover yang berkelanjutan kepada manusia.

Seperti kemunculan virus corona jenis baru, Covid-19 yang kali pertama merebak di kota Wuhan, dari sebuah pasar satwa liar.

Virus corona ini kemudian mewabah tak hanya di negara asalnya di China, tetapi hingga ke sejumlah negara, dan telah menyebabkan puluhan ribu orang terinfeksi dan ribuan orang meninggal.

Cunningham menegaskan pentingnya memahami faktor-faktor risiko penularan virus zoonosis, agar dapat mengambil langkah untuk mencegahnya, di tempat pertama virus itu muncul tanpa memengaruhi hewan liar di mana virus itu terjadi secara alami.

“Meskipun kelelawar dianggap membawa banyak virus yang berpotensi zoonosis, mereka juga penting bagi ekosistem untuk berfungsi,” ungkap dia.

Kelelawar pemakan serangga memakan sejumlah besar serangga seperti nyamuk dan hama pertanian, sementara kelelawar buah menyerbuki pohon dan menyebarkan bijinya.

“Sangat penting bahwa spesies kelelawar ini tidak dimusnahkan melalui tindakan pengendalian penyakit (infeksi virus) sesat,” jelas Cunningham.

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 457 kali. Terima kasih.

Leave a Reply