Artikel ini telah dibaca 189 kali. Terima kasih.

YU WARNI BAIK-BAIK SAJA

Oleh: Fenty Effendy

(Tulisan ini dimuat ulang dari buku “Setrum Warsito” karya Fenty Effendy, atas izin penulis dan diformat ulang untuk kebutuhan posting di media sosial).

Suatu hari di bulan Maret 2010, Warsito menghampiri Yanto dan kawan-kawan. Di tangannya ada beberapa kutang dan ia meminta mereka membuat medan listrik di dalamnya.

Itu berarti penyangga payudara wanita tersebut harus dibongkar untuk memberi tempat pada keping-keping elektroda.

Khusus Rohmadi, tugasnya adalah menyiapkan perangkat pembangkit gelombang listrik (osilator) dengan spesifikasi voltase tertentu. Alat inilah yang akan membuat rangkaian elektroda tadi bekerja menghasilkan medan listrik statis.

Yanto mengaku, saat itu mereka susah-payah menahan ketawa. Sebelumnya, mereka mengutak-atik besi, pipa-pipa, tabung gas—pokoknya aktivitas yang ‘sangat laki-laki’. Lalu, tiba-tiba harus memegang potongan kain berenda, pakaian dalam wanita.

Sambil menahan geli, mereka membongkar penampang kutang tersebut agar bisa disusupi beberapa keping elektroda yang saling dihubungkan dengan kabel diameter kecil. Kemudian dijahit lagi menjadi bra.

“Kami tidak boleh ketawa, dan enggak bisa ketawa, karena yang ngasih bos sendiri,” ujar Yanto.

Ketika tugas itu selesai, Warsito mengomentari hasil pekerjaan mereka dengan alis terangkat: ‘Ini kok enggak rapi?’.

Yanto dan kawan-kawannya kembali mengulangi pekerjaan yang seperti main-main itu. Keping-keping elektroda baru ditata ulang dan benang jahitan tangan yang amburadul dibereskan. Setelah selesai dan kali diterima dengan baik oleh Warsito, tak seorang pun berani bertanya untuk apa kutang modifikasi itu.

Rohmadi bercanda dengan teman-temannya, ‘Paling juga buat alat ngusir tikus’.

Tawa mereka seketika pecah.

Pekan berganti pekan dan keriuhan menjahit ulang kutangkutang pun terlupakan. Yanto dan Rohmadi, juga rekan-rekannya, kembali menekuni pekerjaan rutin.

Bulan Agustus 2010, barulah Warsito memberitahu Rohmadi kalau kutang berisi lempengan elektroda itu untuk Suwarni, kakaknya, yang terkena kanker payudara stadium empat. Setelah pemakaian terus-menerus selama dua bulan, hasil lab darah, USG, dan rontgen paru-paru menunjukkan bahwa kanker tidak lagi terdeteksi.

Alumni Teknik Elektro Universitas Negeri Semarang ini mengenang, “Ndak terbayang waktu kuliah dulu, bahwa nantinya saya bisa menyembuhkan orang.”

“Saya itu sudah lulus tes calon pegawai negeri sipil, karena bapak dan ibu maunya saya jadi pegawai negeri saja supaya tua ada pensiunnya.”

“Tapi saya lebih tertarik dengan ECVT, dan mereka sempat kecewa dengan keputusan saya. Jadi kabar itu membuat saya bukan gembira lagi, tapi terharu!” * * *

Bagi Suwarni, kanker stadium empat itu datang serupa kilat. Seminggu setelah divonis terkena penyakit mematikan ini, ia menjalani operasi pengangkatan payudara sebelah kiri dan benjolan di ketiak sebesar tiga sentimeter, untuk mencegah sel kanker menjalar ke bagian tubuhnya yang lain.

Ibu tiga anak ini berpikir masalahnya tuntas bersamaan dengan selesainya operasi. Ternyata, walaupun payudaranya sudah diangkat, sel kanker masih tertinggal di bekas sayatan, bahkan mulai menyerang kelenjar getah bening. Dokter mengatakan tidak ada jalan lain kecuali menjalani kemoterapi.

“Saya nanya, kemo ini menjamin ndak ada kanker lagi?”

“Dijawab, ndak ada jaminan, Bu.”

“Saya nanya lagi, kalau ndak mau kemo, gimana Dok?”

“Yaa…, paling umur ibu satu sampai dua tahun lagi, katanya.”

“Waktu itu satu kali kemo biayanya 30 juta. Untuk kondisi saya, diperkirakan perlu 9 kali kemo.”

“Dalam hati saya, masak sudah kehilangan duit segitu ndak jamin bisa sembuh?”

Suaminya, Supardjo, mendukung sang istri menjalani kemoterapi. Tak mengapa bila mobil satu-satunya yang mereka miliki—yang tidak lagi baru, harganya pun belum tentu menutupi biaya pengobatan, dan belum tentu juga cepat laku, dijual.

“Nanti sambil jalan, kita nyari uang lagi buat beli,” bujuknya.

Tetapi Suwarni bergeming. Dirawat tak sampai dua minggu saja waktu menjalani operasi, tabungannya sudah terkuras 20 juta rupiah. Ia dan suaminya tak punya penghasilan pasti, hanya mengandalkan usaha bengkel suku cadang dan mesin bubut di depan rumah mereka di Karanganyar.

Warseno, adik nomor 7 yang bekerja di Kementerian Kesehatan, meminjam hasil CT-Scan sang kakak.

“Entah dikasih lihat ke siapa, saya ndak tahu, tapi kemudian dia bilang, Yu Warni, ini memang harus kemo.”

“Saya jawab, enggak, aku ndak punya uang.”

“Dia maksa, ‘Udah kemo aja. Nanti gimana caranya, kita bantu bersama-sama.”

“Saya jawab lagi, ‘Kalau kamu mau bantu, kasih uangnya. Nanti saya teruskan kepada orang lain yang membutuhkan. Tapi jangan paksa saya kemo’.”

Dalam suasana hati yang gundah, Suwarni menelepon Warsito dan menceritakan soal kankernya yang kembali mengganas dan soal umurnya yang diperkirakan dokter paling lama dua tahun lagi.

Ia juga mengungkapkan keengganannya melakukan kemoterapi karena takut dengan efek samping pengobatan tersebut, seperti yang didengarnya dari cerita orang-orang. Rambutnya bakal rontok, kulitnya akan menghitam, dan sebagainya.

“Saya bilang ke Sito, kalau enggak ada jaminan, mending uangnya saya naik haji dulu.”

Dia lebih banyak diam mendengar saya cerita, trus dia pesan, ‘Ya udah, yang penting Yu Warni makannya teratur, makanannya sehat, istirahat cukup, dan jangan banyak mikir’.”

Perempuan berusia 48 tahun ini kemudian melakukan diet ketat dan banyak menyantap makanan sehat yang dimasak di dapur sendiri. Untuk mengontrol dan membersihkan luka di dadanya pasca operasi, seorang perawat rutin datang ke rumahnya. Tetapi, perhatian suaminya-lah yang membuat Suwarni tersentuh.

“Dia bersihin luka bekas operasi dengan hati-hati, trus dipakein obat lagi. Itu dua kali sehari. Hati ini rasanya ‘nyess’, senang.”

“Yang namanya hidup berumah-tangga kan ada pasang surutnya, tapi waktu saya sakit itu, suami benar-benar berubah.”

“Bahkan anak-anak lapor, bapaknya bilang, ‘Lebih baik saya yang mati daripada ibumu. Saya sudah banyak dosanya. Kasihan ibumu’.”

Tanggal 20, bulan Juni, 2010, Warsito meneleponnya, mengabarkan baru selesai membuat satu alat, dan menanyakan apakah Suwarni mau memakainya.

Alat tersebut telah melewati serangkaian tes namun belum ada yang mencoba.

“Jadi terserah saya, mau makai apa enggak. Tapi, kalau dipakai, harus terus-menerus katanya, dan hanya dicopot kalau mau tidur dan mandi.”

Siang menerima kutang medan listrik yang diantar oleh Yanto, Ari, dan keponakan Warsito bernama Kris, malamnya Suwarni langsung memakainya. Sepanjang malam, keringatnya bercucuran seperti habis mandi. Dasternya basah ketika bangun pagi dan baunya tidak sedap.

Dengan lugu, dan tanpa pikiran macam-macam, Suwarni memberitahu dokter yang merawatnya kalau dirinya memakai kutang tersebut.

Seketika itu juga ia dimarahi.

“Dibikinin alat ya boleh-boleh saja, tapi lihat nanti hasilnya, gitu kata dokter.”

“Saya merasa dimusuhi.”

“Namanya orang lagi sakit, hal-hal seperti itu sensitif buat saya. Wong saya lagi butuh disemangati biar lekas sembuh…”

Kutang medan listrik itu dipakai lagi di hari berikutnya. Suwarni tidak pernah melepas, kecuali ketika pergi ke kamar mandi.

Satu bulan kemudian, ia kembali menemui sang dokter dengan membawa hasil tes darah.

“Ketika hasilnya saya serahkan, dia baca, langsung dibanting ke meja. Plak!!”

“Saya kaget. Rupanya kankernya sudah ndak ada.”

“Trus saya nanya, ‘Mau dokter apa? Jangan marah…’”

“Saya disuruh cek lagi bulan depan.”

“Ngomongnya ketus, ndak ada senyumnya.”

“Dalam hati saya, ‘Opo cek itu ndak pakai uang…’. Sekali kontrol ke dokter habis seratus ribuan, itu di luar biaya beli obat.”

Bulan berikutnya, ia membawa hasil lab darah, USG dan rontgen terbaru.

Kali ini, sang dokter yang merawatnya memeriksa dokumen tersebut cukup lama.

“Saya deg-degan, saya tanya, ‘Dok, nyebar lagi ya?’”

“Dia diam saja.”

“Saya tanya lagi, ‘Banyak ya, Dok?’”

“Masih diam juga.”

“Trus, dia melihat ke saya.”

“Katanya, ‘Alhamdulillah Bu, sudah enggak ada lagi. Sudah hilang semuanya. Ibu sudah sehat lagi’.”

Mendengar ucapan itu, air mata Suwarni langsung jatuh berderai. Ia menangis sesengukan. Mimpi apa, punya penyakit mematikan, sudah menguras tabungan, bahkan harusnya habis ratusan juta lagi, ternyata jalan keluarnya di luar dugaan.

Kankernya hengkang berkat sebuah kutang. “Ya Allah… Air mata saya berlinang waktu itu. Wajah Sito langsung muncul. Dia itu benar-benar penolong saya, dia malaikat kecil saya. Saya syukuri sekolahnya tinggi dan kepintarannya berguna. Ini semua kebesaran Allah.”

Dokter sempat menanyakan siapa yang membuatkan alat berbentuk kutang itu. Dijawab oleh Suwarni, adiknya.

“’Adik ibu siapa?’ Saya jawab lagi, Warsito.”

“‘Siapa dia?’ Dia Staf Khusus Menteri Riset dan Teknologi.”

Sejak akhir tahun 2009, Warsito memang membantu Menristek Suharna Surapranata, sebagai Staf Khusus Bidang Kerjasama Luar Negeri.

Ketika pertama kali mendengar sel kanker kakaknya menghilang, Warsito tidak percaya. Setelah bertemu muka, melihat wajah bulat Suwarni segar dan bersemangat, ia tak kalah gembira. Inilah sang kakak yang kedua tangannya kerap membopong bokong kecilnya ketika belum bisa berjalan dulu. Yang mengasuh dan menyuapinya makanan ketika Simbok tak ada di rumah. Yang jadi tempatnya mengadu ketika buntalan uang logam hadiah sunatannya jatuh ke sungai.

“Sebenarnya, kalau soal biaya, saya enggak kepikiran,” kata Warsito mengingat pembicaraannya dengan Suwarni pada awal tahun 2010.

“Artinya, kalau kemoterapi yang biayanya ratusan juta itu sudah jadi pilihan, ya dijalankan. Masak didiamkan?”

“Tapi karena dia enggak mau kemo, saya jadi mikir, gimana caranya ya buat nyembuhin Yu Warni…”

Saat itulah di kepalanya melintas nama Yoram Palti dan alat Tumor Treating Field (TTF) yang ditemukannya. Profesor Palti, seorang Yahudi yang mendalami fisiologi dan biofisika, menciptakan perangkat yang mengalirkan energi listrik dengan frekuensi sedang.

Saat itulah di kepalanya melintas artikel yang diberikan oleh Bu Djarwani setahun sebelumnya, tentang perangkat perangkat pembasmi kanker yang mengalirkan energi listrik dengan frekuensi sedang. Namanya Tumor Treating Field (TTF). Penulisnya adalah penemunya sendiri, Yoram Palti, seorang Yahudi yang mendalami fisiologi dan biofisika.

“Memori itu muncul begitu saja. Saya pelajari, alat ciptaan profesor Palti itu nempel ke kulit. Untuk mengalirkan listrik, ada aki berukuran besar yang ditaruh di dalam ransel dan harus digendong.”

“Saya berpikir, kalau basisnya medan listrik, harusnya bisa dibikin tanpa menggunakan elektroda yang harus ditempel di kulit. Dan tidak perlu tenaga besar.”

Sebelum diwujudkan dalam bentuk kutang yang dipakai Suwarni, Warsito melakukan uji coba terhadap kultur sel kanker dan sel normal dibantu oleh Arief Budi Witarto, doktor ahli biologi molekuler lulusan Tokyo Agriculture University, peneliti yang bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini juga konsultan peneliti di RS Kanker Dharmais.

Warsito juga dibantu mahasiswa bimbingannya di Fisika Medis UI, Mursilatun, untuk pengolahan data. Uji sel dilakukan di Laboratorium Universitas Gadjah Mada.

Hasilnya, sepertiga sel kanker mati, sedangkan sel normal tidak ikut terpengaruh.

“Uji cobanya lama juga. Tiga bulan baru keluar datanya. Saya lihat, kok sepertinya ok ya. Makanya saya kemudian minta ke anak-anak di lab untuk dibikinkan osilator.”

“Saya kasih tahu, spesifikasinya begini, begini…”

Ndilalah, Rohmadi keliru mengartikan perintah itu.
“Disuruh bikin gelombang sinus, saya bikinnya gelombang kotak.”

Salah pengertian ini justru membawa kehidupan baru bagi Suwarni. Gelombang sinus memancar dalam satu frekuensi, naik turun dengan kemiringan tertentu, dan dengan voltase yang tidak selalu sama.

Sedangkan gelombang kotak menghasilkan frekuensi medan listrik dengan spektrum luas dengan voltase konstan bergerak lima volt positif ke atas dan lima volt negatif ke bawah. Ibarat pergi ke medan perang, tentu lebih mudah memenangkan pertempuran bila prajuritnya banyak dan mengepung dari berbagai lini.

Lalu, soal kutang, Warsito sendiri yang pergi membelinya ke sebuah pusat perbelanjaan di Tangerang. Ia sempat kikuk ketika ditanya-tanya oleh pelayan toko di bagian pakaian dalam wanita.

“Ukuran berapa? Cup A, B, atau C?”

“Saya melongo. Emang bra ada A-B-C-nya?”

“Sebentar ya, kata saya.”

“Trus saya telepon Yu Warni, menanyakan ukurannya tapi saya enggak kasih tahu untuk apa.”

Itulah asal kutang yang diutak-atik Yanto dan kawan-kawan.

10YearsECCT #10TahunECCT #CancerSurvivors

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 189 kali. Terima kasih.

Leave a Reply