Artikel ini telah dibaca 281 kali. Terima kasih.

Pemerintah Indonesia hari ini secara resmi mengumumkan dua warga negara Indonesia terinfeksi virus corona COVID-19.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berusaha meyakinkan virus corona COVID-19 bukan hal yang sangat menakutkan. Mantan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto itu juga mengaku percaya diri menghadapi penyebaran virus ini.

“Ya itu tergantung kita semua maunya ke mana, maunya apa, yang jelas pemerintah jujur selalu apa adanya. Kamu lihatlah Menkes confident (percaya diri) banget kok, yakin apa yang harus dihadapi,” ujar Terawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2020).

Dia juga menanggapi masker yang semakin langka di pasaran. Menurut Terawan, masker hanya bagi mereka yang sakit. Dia pun mengimbau masyarakat yang berada dalam kondisi sehat tak usah memakai masker.

“Tetap keputusannya dari WHO yang sakit yang pakai masker. Yang sehat enggak usah. Kenapa? Karena apa? Kalau yang sehat pakai juga percuma, dia nanti megang-megang tangannya dan sebagainya. Tetap saja bisa kena,” ujar dokter spesialis radiologi itu.

Lalu bagaimana usaha negara-negara lain untuk meminimalisir penyebaran virus corona.

1. Jepang

Menurut peta persebaran virus corona COVID-19, Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, Jepang jadi negara terbanyak kelima di dunia yang warganya positif terinfeksi. Menurut data tersebut sampai hari ini, terkonfirmasi sebesar 256 kasus. Sebanyak 32 kasus dinyatakan bisa disembuhkan. Sementara 6 lainnya sembuh.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe hari Sabtu (29/2/2020) lalu secara khusus menggelar taklimat media terkait virus corona. Dalam kesempatan itu, Abe menyatakan Jepang belum separah tetangganya China dan Korea Selatan.

“Namun setiap hari jumlah pasien positif COVID-19 juga bertambah setiap hari,” ujar Abe. ” Meski demikian, para ahli berpendapat bahwa kecepatan penyebaran COVID-19 di Jepang masih dalam tahap yang bisa terkontrol.”

Paling penting menurut Abe yakni mencegah penularan virus. Abe mengimbau semua acara yang melibatkan orang banyak berkumpul, diharapkan untuk dibatalkan, ditunda, atau dikecilkan skalanya untuk mencegah penularan massal.

“Sudah ada kasus terjadi penularan dari sport gym dan makan bersama dengan buffet style. Dimohon untuk menghindari berkumpul di tempat dengan sirkulasi udara buruk dan juga tempat yang padat orang dengan kemungkinan bersentuhan tinggi.”

Salah seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang, Pitoyo Hartono, menyampaikan instruksi Abe tersebut dipatuhi masyarakat Jepang. “Acara wisuda universitas saya dibatalkan,” ujarnya pada detikcom.” Konferensi-konferensi ilmiah yang banyak dijadwalkan pada bulan Maret ini semuanya sudah dibatalkan.”

Pitoyo merupakan guru besar di Department of Mechanics and Information, Chukyo University, Jepang. Tak hanya itu, menurut Pitoyo, banyak perusahaan yang meminta pegawainya untuk bekerja dari rumah. Dia sendiri mengaku membatalkan perjalanan ke Indonesia untuk memberi kuliah tamu ke sejumlah universitas.

“Ini dikarenakan pemerintah Jepang mengeluarkan imbauan agar masyarakat menghindari keramaian, bukan hanya untuk melindungi diri sendiri tapi juga melindungi orang lain dengan menurunkan potensi infeksi,” ujar pria asal Surabaya, Jawa Timur itu.

Pemerintah Jepang juga meliburkan sekolah mulai tingkatan sekolah dasar sampai sekolah menengah. “Dimohon pengertian dan kerjasamanya karena ini semua untuk mencegah penularan masal di mana anak anak dan juga pengajar berkumpul dalam waktu yang lama di ruangan yang sama,” ujar Abe.

Abe dengan sangat serius mengakui masih banyak hal yang tidak diketahui dari virus ini. Dia menyebut, bukan hal yang mudah “berperang” melawan musuh yang tidak kelihatan dan tidak diketahui wujudnya. Karena itu, Abe menyampaikan pemerintah Jepang tidak bisa “berperang” sendirian.

“Kerja sama dan pengertian dari semua pihak, fasilitas kesehatan, masing-masing keluarga, perusahaan, pemerintah daerah dan setiap individu sangat diperlukan. Meskipun tidak mudah, tapi saya yakin kita bisa melaluinya dengan kerja sama dari semua pihak,” ujar Abe.

Tak hanya di Indonesia, kelangkaan masker pun terjadi di Jepang. Hanya saja, menurut The Japan Times, pemerintah daerah di Jepang berinisiatif memberi tutorial pada warganya cara membuat masker wajah dan desinfektan sendiri yang dimasukkan lewat Youtube.

Masker ini dibuat dengan menggunakan kain kasa dan tali elastis. Dalam tutorial yang disiapkan dalam bahasa Jepang, Inggris, dan China itu juga ditunjukkan cara mensterilkan masker agar dapat dipakai kembali.

2. Singapura


Sebanyak 106 kasus terkonfirmasi positif virus corona COVID-19 di Singapura. Sebanyak 32 orang masih dalam perawatan. Sementara sisanya sudah dinyatakan sembuh.

Pemerintah Singapura pun sudah menaikkan level The ‘Disease Outbreak Response System Condition’ (DORSCON) ke warna oranye. “Ini karena pemerintah ingin melindungi rakyat Singapura sebaik mungkin,” ujar Perdana Menteri Lee Hsien Loong.

Lee mengakui virus corona berkembang dengan pesat. Karena itu pemerintah Singapura menurut Lee harus berani mengambil langkah cepat dan tegas. Dia juga meminta rakyatnya agar mematuhi setiap imbauan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan.

PM Lee agar warganya tetap tenang. Karena kecemasan yang berlebihan bisa lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Dia meminta kekhawatiran jangan sampai menimbulkan kepanikan atau membuat orang mengambil tindakan yang justru memperburuk keadaan.

“Jangan sebarkan berita palsu, jangan membeli masker dan bahan makan dengan berlebihan,” ujar PM Lee.

Kementerian Kesehatan Singapura memberi imbauan agar setiap orang yang baru datang dari daratan China atau daerah yang berisiko tinggi diminta untuk tetap tinggal di rumah untuk mencegah kontak selama dua minggu.

Singapura tak main-main dengan aturan ini. Seorang lelaki berusia 45 tahun telah kehilangan status tempat tinggal permanennya di Singapura setelah melanggar Stay-Home Notice.

Pria itu telah melakukan perjalanan ke China dan diberitahu tentang aturan baru tersebut ketika ia tiba di Bandara Changi pada 20 Februari, kata Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan (ICA). Namun, menurut Channel News Asia, dia tak menjawab panggilan telepon dan ketahuan tidak berada di rumah ketika petugas ICA melakukan pengecekan.

Pada 23 Februari, lelaki itu berusaha meninggalkan negara itu melalui Bandara Changi dan diperingatkan oleh petugas ICA bahwa ia telah melanggar persyaratan dari Stay-Home Notice. Namun, ia bersikeras meninggalkan Singapura, kata ICA.

Pemerintah Singapura pun tak segan menindak orang-orang yang memberi informasi palsu atas perjalanan yang pernah dilakukan untuk menghindari karantina.

“Pelanggaran aturan yang disengaja, dalam situasi saat ini, membutuhkan respons yang cepat dan tegas,” ujar Menteri Hukum Singapura, K. Shanmugam seperti yang dikutip dari Bloomberg.

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 281 kali. Terima kasih.

Leave a Reply