Artikel ini telah dibaca 5018 kali. Terima kasih.

kemarin (10 april 2007) saya betul-2 begitu bahagia… saya bahagia bukan karena dapat undian atau uang dalam jumlah yg banyak. saya bahagia karena saya dapat melepaskan diri dari sistem yg begitu menjerat… ceritanya begini…

kemarin saya polres bogor utk mengurus sim a dan c… sebelum pergi, saya tanya ke istri bagaimana prosedur mengurus sim di sini (indonesia). lalu dijelaskan oleh istri. katanya, “ada 2 cara… 1 dengan cara normal, 1 lagi dg cara tidak normal. yg tidak normal itu ya lewat calo sipil atau calo orang dalam (polisi itu sendiri). cara normal ada ujian tulis dan praktek spt halnya di jepang. dan waktunya kira-2 2 minggu. sementara cara tak normal tidak ada ujian macem-2 dan
dalam waktu 1 jam sim sudah di tangan…”

dalam perjalanan, di mobil (disupirin) saya terus memutar otak saya. utk memilih kedua cara tadi. normal atau tidak normal… sungguh ini pilihan yg sangat pelik buat saya… peliknya begini, dg cara normal pun kemungkinan saya lulus belum tentu. sementara biayanya yg akan saya keluarkan serta waktu (khususnya) akan banyak keluar/tersita. dan khawatirnya akan akan pakai cara yg tdk normal at last… sementara kl saya pilih cara tak normal saya akan banyak menghemat waktu. tapi… hal itu akan membuat saya menjadi pendukung sistem yg sejak dulu
menerapkan kkn… itu artinya saya sama dg mereka…

hmm… betul-2 mairimashita… sampai di polres, saya pun masih belum bisa memutuskan cara mana yg akan saya ambil… saya tidak langsung ke lokasi pengurusan sim. saya muter-2 terus melihat lokasi polres dan sekitarnya. nonton para hansip yg sedang latihan… lihat polisi yg
mengerlipkan matanya ke saya. dan saya bisa mendeteksi bahwa dia adalah calo dalam… kata istri, begitu masuk lokasi polres kita akan disambut oleh calo dalam dan luar. sambutan di luar agak mahal… kl sudah ke dalam bisa lebih murah…

terus terang saya sama sekali tdk tahu prosedur mengurus sim yg sesuai dengan standar normal. datang ke loket mana dulu pun saya tak tahu. akhirnya saya putuskan utk survey ke lokasi melihat bagaimana orang mengurus sim. di depan loket saya tanya ke penjaga (yg ternyata calo juga) bagaimana mengurus sim. dia menyodorkan map (rp. 2000/lembar)
dan bolpen (rp.1000). lalu menawarkan jasanya… rp.500 ribu utk 2 sim a dan c. saya tolak. lalu saya isi form di bangku yg tersedia. lalu seorang ibu-2 mendekati saya, membantu saya cara mengisi formulir. saya katakan terus terang bahwa saya tidak tahu cara mengurus sim, lalu si ibu menjelaskan step-2 apa yg harus saya lakukan. lalu ibu menawarkan jasa utk menguruskannya dg tarif rp. 400 ribu. saya tolak dengan halus dg alasan saya ingin mencoba dulu sendiri bagaimana mengurus sim. kalau nanti saya ada kesulitan saya akan minta tolong ke si ibu.

step demi step saya lalui… dan selanjut memasukan form ke loket 1. di kaca pintu depan sebelum loket 1 saya membaca tulisan yg membuat saya tersenyum kecut. “DILARANG MENGURUS SIM MELALUI CALO”.

lalu saya masukan form (pendaftaran, sidik jari dan kesehatan) ke loket 1. di loket 1 ini ada 2 orang yg bertugas. 1 dg pakaian polisi dan yg 1 lagi pakai baju bebas (dari penampilannya saya pikir dia adalah pekerja srabutan utk membantu petugas resmi di sebelahnya). form saya diletakkan/ditumpuk di sebelah kiri. saya perhatikan 2 petugas yg bekerja tadi. saya ingin tahu bagaimana form-2 tadi dikerjakan.

sambil berdiri persis di depan loket 1, saya melihat calo-2 dalam dan luar memasukan form-2 bawaannya ke loket 1 dan langsung meletakknya di sebelah kanan. sesaat kemudian form-2 bawaan itu langsung dikerjakan terlebih dahulu. sementara form saya yg lebih dulu belum disentuh oleh petugas loket 1.

saya lihat petugas resmi membuka form-2 bawaan, lalu menghitung sejumlah uang apakah sesuai dengan jumlah form-2 bawaan tadi. begitu seterusnya. form-2 bawaan datang silih berganti. sampai akhirnya form saya disentuh. dan si petugas dg nada heran bertanya ke saya, “bapak mengurus sendiri?”. saya jawab, “ya, betul”. lalu saya dipersilahkan masuk ke dalam loket 1 lewat pintu belakang. di dlm loket 1 si polisi mengulangi pertanyaannya, “bapak mengurus sendiri?”. saya pun mengulangi jawaban singkat saya tadi. lalu saya disuruh menunggu di luar. kemudian saya dipanggil utk membayar biaya adminstrasi bank utk 2 sim rp. 150 ribu (masing-2 rp. 75 ribu). saya bayar, lalu saya tanya, “setelah ini saya harus kemana?” namun tidak dijawab oleh si petugas. kebetulan saat itu ada polisi lain yg dibelangkang saya dan menyaksikan saya. di polisi itu menjelaskan, “bapak masuk ke dalam, serahkan form bapak ke dalam ruangan…” saya masuk ke dalam ruangan persis di belakang loket 1.

di dalam ruang itu banyak petugas polisi dan masih muda-2. saya taksir masih 25an thn. saya masukan form saya ke ruang itu. di ruang ini pun sama spt di loket 1. calo dalam dan luar datang mengantarkan form-2. masuk dan keluar dalam waktu yg singkat. sementara saya harus menunggu sampai 1 jam-an (karena mungkin dan pasti dipotong terus oleh para calo). sampai akhirnya saya dipanggil dan disuruh masuk ke dalam. polisi-2 muda ini tersenyum-2 melihat saya dan ramah sekali. tanya-2 tinggal di mana, apa pekerjaan saya. dsb. setelah bertanya, “bapak mengurus sendiri?”. di sini saya diminta membayar rp. 75 ribu x 2 sim. saya tanya utk apa pembayaran ini. krn di loket 1 saya sudah bayar dg jumlah yg sama. di jelaskan yg pertama 1 utk bayar bank (entah apa ini), yg di ruang itu utk form registrasi pendaftaran sim. lucunya,
setiap pembayaran tidak ada bukti kuitansi pembayaran (map, sidik jari, kesehatan, bank dan registrasi sim). saya sempat mbathin, bagaimana mereka melaporkan keuangan pengurusan sim ini ke bagian keuangan kas pemda/pusat nanti dengan benar sementara tidak ada
bukti-2 otentik bukti pembayaran bermaterai atau tanda tangan? bisa kita bayangkan sendiri…

setelah membayar, saya tanya prosedur selanjutnya. di jelaskan bahwa saya harus ke loket 3 utk mengisi formulir registrasi tadi. loket 3 ini ternyata ruangan ujian teori. di ruang ini saya isi pertanyaan-2 yg ada dengan lengkap. sementara orang-2 yg menggunakan calo hanya
diperintahkan mengisi nama ayah dan ibu saja. di sini pun map saya dipisahkan lagi dg map-2 bawaan calo. di ruang ini para calo keluar masuk menutor customernya asing-2. menjelaskan apa-2 yg harus diisi atau diabaikan… setelah diisi, map-2 dibawa entah kemana… saya tanya ke polwan muda (25 thnan) bagaimana prosedur selanjutnya. “silahkan nanti bapak dengarkan nama bapak dipanggil di loket 5…”

loket 5 ini ternyata ruangan foto… masyallah, ternyata semua orang menggerombol di dalam dan di luar loket 5. saya teringat ucapan ibu yg membantu saya tadi, “kalo bapak mengurus sendiri lama sekali, pak… di dalam orang banyak sekali. bapak tidak bisa menunggu sambil duduk,
ruangan panas…” dan memang benar. loket 5 ini adalah loket terakhir yg harus dilalui. saya mbathin, lantas kapan saya harus ujian teori dan praktek? apa setelah ini sim a dan c saya langsung jadi (karena saya menyertakan juga sim a saya yg sudah mati di loket 1 tadi sehingga ada perkecualian tidak perlu ada ujian teori dan praktek lagi)? atau mungkin utk bisa ujian teori dan praktek diperlukan foto terlebih dahulu? entahlah, saya tunggu dan ikuti saja prosedur yg
telah dijelaskan oleh polwan tadi.

loket 5 ini terhubungan dengan ruangan loket 4. di tembok perbatasan ada celah utk keluar masuknya map-2.

satu persatu nama-2 bawaan calo di panggil melalui pengeras suara… dan saya masih setia menanti. karena saya pikir ini bakalan lama dan tak mungkin saya harus menunggu dg terbengong-2 seorang diri, saya putuskan pergi makan siang bersama supir saya di warung yg ada di dalam area , lalu ambil buku bacaan. dan menunggu kembali di dalam loket 3 yg lebih nyaman dari pada saya harus menunggu di depan loket 5. dari dalam loket 3 pun panggilan dari loket 5 akan terdengar karena petugas memanggilnya dengan pengeras suara.

2 jam berlalu dalam penantian. masih belum dipanggil-2 juga. saya berusaha ngobrol dg orang-2 di samping kanan dan kiri saya duduk. bapak yg di sebelah kiri saya duduk curhat, mengeluhkan sistem pengurusan yg tidak profesional. di loket 5 ini cuman ada 1 pintu masuk yg dipakai utk pintu keluar. padahal semua orang ngantri berjubel baik di dalam loket maupun di depan pintu dan diluarnya lagi. otomatis pintu itu tertutup oleh orang-2 yg mengantri dan orang-2 jadi
susah masuk dan keluar. sementara nama-2 kita dipanggil sudah tidak pakai pengeras suara lagi. bisa kita bayangkan bagaimana kita harus benar-2 konsentari mendekatkan telinga kita ke arah pintu atau jendela. atau mengaharap ada orang yg bertugas sebagai “bilal” utk mengulangi panggilan dari petugas foto.

bapak tadi rupanya pegawai pemda golongan 4. kepala sekolah sd. sudah mengabdi sebagai pns selama 40 tahun. banyak yg dikeluhkan terkait sistem pengurusan sim yg menurutnya memang disengaja tidak praktis. kalau mau, pastilah bisa dirubah menjadi baik. orang-2 yg foto banyak
petugas cuman satu dan ruangannya sempit pula. sistem percaloan yg sangat sulit utk dihilangkan. ttg ini saya coba menambahkan pendapat saya, “tapi mau gimana lagi ya… masyarakat kita sendiri masih mendukung sistem percaloan. bapak bisa lihat di sini… mayoritas kita semua di sini tidak mengurusnya sendiri meskipun mereka sudah tahu cara demikian tidak sesuai dg prosedur. mereka tetap saja menggunakan calo dalam dan luar. karena kita ingin semuanya cepat selesai. meskipun melanggar aturan-2 baku yg sebenarnya sudah ada…” lalu
saya iseng saya tanya, “bapak bayar berapa tadi utk mengurus sim…?” rupanya bapak ini pun sama dengan yg lainnya, menggunakan calo dalam mengurus sim. saya tahu, karena jumlah uang yg dikeluarkannya lebih banyak dari yg semestinya (tdk spt yg saya keluarkan). bapak tadi
berusaha membela diri dg komentar singkatnya, “kita harus ikuti arus yg kuat… ”

ternyata di loket 5 pun sama halnya dg loket-2 sebelumnya. yg dipanggil duluan adalah mereka-2 yg diurus oleh calo dalam (polisi), kemudian diikuti oleh calo luar (sipil yg sudah punya jalur khusus dg orang dalam). setelah itu baru yg ngurus sendiri. yg jelas sampai akhirnya saya di panggil utk di foto, saya harus menunggu 2.5 jam. setelah satu persatu bawaan calo habis dipanggil, barulah akhirnya saya mendapat giliran dipanggil ke dalam ruangan utk foto… jauh
berbeda dg yg dibawa oleh calo (dalam khususnya) yg hanya butuh waktu kira-2 5 menit saja.

setelah difoto kita semua diperintahkan menunggu di luar gedung pengurusan sim, berdiri tepat di depan pintu berkaca dengan tulisan “DILARANG MENGURUS SIM MELALUI CALO”.

saya berdiri menunggu di depan pintu masuk ruang mengurus sim. satu persatu nama-2 yg sudah difoto tadi dipanggil. di sini nama saya cepat di panggil. lalu diserahkan dua buah sim a dan c yg sudah jadi. pertanda urusan pengurusan sim saya sudah selesai. istri saya heran
dan tanya, “kok gak ada ujian teori dan prakteknya?” saya pun tahu. cuman saya jelaskan saat daftar tadi saya menyerahkan sim a yg sudah mati. mungkin karena sudah pernah punya sim tidak ada ujian teori atau praktek lagi.

yg jelas, hari itu saya betul-2 bahagia karena saya tidak hanyut dalam arus yg sangat deras. yg itu sudah mengalir bertahun-tahun lamanya. saya tidak perlu lagi memikirkan kenapa tidak ada ujian teori dan praktek. yg penting, saya sudah mengurus sim-2 saya tanpa calo dalam maupun luar. yg penting saya sudah mengikuti anjuran “JANGAN MENGURUS SIM MELALUI CALO”. dan itu sudah saya lakukan.

saya bukan ingin caper atau sok suci atau apalah. itu bukan urusan saya. yg menjadi urusan saya, bagaimana saya (dan tentunya kita semua) bisa merubah sistem yg sudah akut. dan itu tidak akan bisa kita lakukan kalau kita belum atau tidak tahu spt apa sistem yg sedang berlaku. di dalam ruang belakang loket 1, saya katakan kepada polisi-2 yg ada disitu bahwa saya mengurus sim ini sendiri karena saya ingin tahu sistemnya spt apa. dan sekarang sudah mengetahuinya. sehingga saya tahu apa-2 yg seharusnya dan semestinya saya lakukan kalo suatu saat nanti saya tiba-2 diangkat menjadi kapolri. saya jadi tahu apa-2 yg harus saya reformasi di kepolisian nantinya… dan insyallah saya bisa melawan arus yg lebih deras dari yg sekarang saya alami… smile

akhirnya saya teringat dalam satu ayat al quran (al anfal ayat 53) yg menyatakan bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah sampai kaum itu sendiri yg merubah nasibnya. termasuk dalam urusan calo mencalo di kepolisian kita atau di tempat-2 yg lain. selama kita masih menggunakan jasa para calo, tak akan mungkin sistem percaloan akan hilang dari negeri kita. kkn akan terus tumbuh subur, karena kita sendiri yg memupukinya terus. hari demi hari…

Artikel ini telah dibaca 5018 kali. Terima kasih.

1 Comment

  1. Candra, saya punya cerita lain ttg pengursan SIM A perpanjangan….Waktu saya ke loket saya menyapa mereka dgn ramah he he memang sih …smile…sy bilang selamat pagi mbak…maaf menggangu…boleh saya dibantu???saya mau memperpanjang SIM A sy yg sdh habis…maaf baru bs urus sekarang krn sy dinas ke luar kota.agak lama… Dijawab si ibu….oh silahkan bu ini ibu harus mengisi formulir nanti terus ke loket sebelah ya bu.Sy jawab oh terima kasih bu, maaf saya mau pakai..jalur resmi bu berapa biaya nya? bu ini yang hrs ibu bayar….dia sebutkan 60.rb..Alhasil…sy dilayani dgn baik dan surprise dilakukan kurang dr 2 jam…..sdh dapat SIM nya…………
    Disesi terakhir setelah ujian tertulis itu…saya sampaikan…pada bapak pengawas….maaf pak Polisi berhubung ini sudah saatnya Shalat Jumat…jam berapa saya harus kembali utk ambil SIM nya?…ibu tunggu panggilan saja ya bu…Terima kasih ya pak…Assalamualaikum sy jwb.
    Sy terus ngeloyor pergi…1 menit kemudian sy di panggil…bu bu,…sebentar….karena ibu2 tdk jumatan sebaiknya ibu tunggu disini saja biar polwan yg urus yaa bu… sebentar sy ke dalam…Tdk lama kemudian sy dipanggil utk foto….sy sendiri kaget…sy jwb oh baik pak kalu memang tdk merepotkan sy akan berterima kasih sekali….Jepret sy difoto dan stlh konfirmasi data sy disuruh menunggu diluar….sebelum jumatan selesai sy sdh memperoleh SIM sy dgn rasa kagum campur kaget ternyata ada juga sisi baik sang polisi tsb….sebelum pulang saya sempat salaman dgn ibu 2 yg memproses tsb…juga tdk lupa sy juga menyampaikan bahwa bu tolong sampaikan terima kasih sy pd bp pengawas td yaa mungkin beliau masih jumatan…dan si ibu bilang baik bu sama2 hati2 dijalanbu jangan sampai kena tilang ya ….dia berseloroh……Saya jawab pasti bu doakan saja ya .assalamualaikum…dia jwb walaikumsallam…..
    Sesampainya dirumah sy ceritrakan pd orang rumah…mereka sempat tdk percaya lho…tp kebetulan ada komentar anak saya yg sulung….iya MoMMY itu berkah hari Jumat…ternyata ada juga polisi yang baik ya mom…..smile…

    True story.

Leave a Reply