Artikel ini telah dibaca 3187 kali. Terima kasih.

image

DEVALUASI  YUAN  untuk Jebakan Hutang

Oleh Dahlan Iskan

Sudah satu bulan lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas.
Permainan  kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan hutang. 

Sebagian ahli sudah meramal kinilah saatnya Tiongkok benar-benar akan hancur.
Tidak mampu keluar dari kesulitan yang begitu sulit dan menjebak.

Rupanya devaluasi mata uang Yuan hampir dua persen yang diumumkan dua hari lalu itulah jurus kungfu yang dimainkan.
Untuk keluar dari puncak kesulitannya saat ini. Cerdas sekali.

Tiongkok selama ini memang dikenal selalu punya jurus baru. Selalu bisa mementahkan keraguan para analis ekonomi dunia. Dari negara yang begitu miskin dengan beban penduduk yang begitu besar, mestinya tidak mungkin Tiongkok bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia dalam waktu singkat.

Tapi belakangan ini persoalan ekonomi yang dihadapi Tiongkok begitu berat.
Bahkan sudah terlihat melingkar-lingkar, membelit dan membelenggu. Sampai mencapai tahap yang disebut “jebakan hutang”. 

Hutang Tiongkok yang semula dipakai untuk membiayai kemajuannya itu kini sudah sampai pada tingkat menjebaknya. Pelaku ekonomi, pelaku keuangan, pelaku pasar modal menanti-nanti dengan seksama jurus apa yang disiapkan Tiongkok untuk keluar dari jebakan itu.

Begitu beratnya persoalan itu sampai ada yang bertanya begini: Mungkinkah kali ini Tiongkok juga berhasil melakukan cikung untuk melompati jebakan itu? Atau kali ini akan gagal?

Rupanya inilah yang dilakukan Tiongkok: devaluasi.
1,9% dan 1,6% , tapi cukup mengguncangkan dunia.
Bisa-bisa memicu perang mata uang dunia. Bisa-bisa kita yang di Indonesia tiba-tiba saja jadi korban perang. Kita tidak boleh diam.

Kita di Indonesia, saat ini juga sedang menghadapi satu jenis jebakan yang kelasnya lebih rendah dari itu: jebakan kelas menengah. Tiongkok sudah berhasil mengatasi jebakannya itu 15 tahun yang lalu. Sehingga pembangunan ekonominya tidak terhenti di tengah jalan.
Berhasil terus tumbuh tinggi. Hingga mencapai prestasinya sekarang ini.

Kita masih harus mencari jurus untuk mengatasi jebakan kelas menengah kita itu.
Kalau berhasil kita akan bisa terus meraih kemajuan.
Kalau gagal, langkah kita akan terhenti. Dan kita akan terbelit dengan persoalan yang muter-muter. Bisa berpuluh tahun lamanya.

Kalau dengan devaluasi ini Tiongkok  berhasil mengatasi jebakan hutangnya itu, maka Tiongkok akan terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Mengalahkan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya 15 tahun.

Kalau Tiongkok kali ini gagal mengulang sukses melewati jebakan-jebakannya,  maka Tiongkok terpaksa akan mengalami apa yang pernah dialami Jepang. Pertumbuhan ekonominya berhenti. Selama 20 tahun.

Sejak tahun 1990-an sampai menjelang tahun 2010 yang lalu ekonomy Jepang hanya tumbuh nol persen (kadang sedikit di atas nol, kadang minus sedikit di bawah nol). Waktu itu, kalau orang Jepang menempatkan uang di bank, bukannya mendapat bunga, bahkan harus membayar uang administrasi.

Tapi jangan dibayangkan hal itu menjadi sebuah bencana. Berhentinya ekonomi Jepang adalah berhentinya ekonomi sebuah negara yang sudah terlanjur menjadi kaya raya. Dia tidak menjadi miskin. Hanya berhenti untuk menjadi lebih kaya lagi.

Demikian juga dengan Tiongkok nanti. Kalau pun Tiongkok kali ini gagal keluar dari jebakan hutang, itu akan mirip dengan apa yang dialami Jepang. Jangan-jangan memang begitulah hukum alam untuk menjadi negara kaya. Harus melewati satu masa konsolidasi yang sulit, menyakitkan dan panjang.

Bedanya, saat Jepang mengalami itu, demokrasinya sudah sangat matang. Tiongkok belum menjadi negara demokrasi. Entah ini kekuatan atau kelemahan. Mungkin saja ini justru menjadi kekuatan daripada, misalnya, masih dalam status negara demokrasi setengah matang.

Jebakan hutang Tiongkok itu terlihat dari angka ini:

1.     Utang negara dan utang perusahaan di Tiongkok sudah mencapai 26 triliun dolar. Tertinggi di dunia.

2.     Utang itu sudah mencapai ratio 250 persen dari GDB Tiongkok yang sekitar 10 triliun dolar.

3.     Ratio sebesar itu, kalau dalam doktrin negara-negara Eropa, sudah memasuki tahap yang perlu di bail-out. Artinya, kalau tidak dibail-out memasuki tahap kebangkrutan.

4.     Untuk menurunkan ratio itu, hutangnya tidak boleh tambah, tapi ekonominya harus tumbuh tinggi. Atau hutangnya boleh tambah sedikit tapi pertumbuhan ekonominya harus tumbuh besar.

5.     Secara teori, tanpa tambah hutang ekonomi tidak mungkin tumbuh. Di sinilah jebakannya itu.

6.     Suku bunga harus rendah, tapi tanpa hutang baru likuiditas akan ketat dan itu berarti suku bunga pinjaman atau obligasi akan terpaksa tinggi. Di sini terlihat juga jebakannya.

Kenyataan di atas sudah mirip persoalan ayam dan telur. Bahkan sudah masuk ke persoalan buah simalakama. Hanya saja Berbeda dengan negara lain, masih banyak faktor positif yang dimiliki Tiongkok:

1.     Cadangan devisanya 4 triliun dolar. Tertinggi di dunia. Negara lain akan dalam bahaya kalau cadangan devisanya hanya cukup untuk membiayai impor selama dua minggu. Cadangan devisa Tiongkok ini bisa untuk membiayai impornya selama, wooww,  beberapa tahun.

2.     Hitungan GDB Tiongkok tadi belum termasuk kekayaan CIC, perusahaan investasi negara yang melakukan investasi di luar negeri.

3.     Pengendalian jumlah penduduknya berhasil. Karena itu ijin untuk memiliki lebih dari satu anak dilakukan dengan sangat selektif.

4.     Hutang-hutang luar negeri tersebut umumnya dalam bentuk mata uang renminbi/yuan. Bukan dolar. Ini tidak akan menggerus cadangan devisa.

Saya sudah menduga Tiongkok akan memainkan yuan untuk mengatasi jebakan hutangnya itu. Tapi saya tidak menduga kalau devaluasi yang akhirnya dilakukan.

Semua kesulitan ternyata ada jalan keluarnya.
Setinggi apa pun kesulitan itu.

Artikel ini telah dibaca 3187 kali. Terima kasih.

Leave a Reply