Artikel ini telah dibaca 4021 kali. Terima kasih.

candra-lavenderbertepatan dengan hari ibu tanggal 22-12-2015 kemarin, saya diundang untuk menghadiri sebuah acara “Suara Perempuan untuk membangun harapan kesembuhan dari kanker bagi mereka yang tak lagi punya harapan” yang juga dihadiri oleh para survivor, dokter, peneliti, profesor dalam bidang fisika medis.  acaranya sendiri digagas oleh Dompet Dhuafa dan Lavender Ribbon Cancer Group.

begitu terharu mendengarkan penjelasan ibu Indira Abidin (pendiri Lavender Ribbon Cancer Group) tentang per-kanker-an di tanah air.  keterbatasan tenaga ahli medis, keterbatasan tempat untuk menampung pasien panker yang berobat dan keterbatasan-keterbatasan lainnya memang harus menjadi perhatian kita semua, khususnya pemerintah (melalui kemenkes).

sebelum Dr. Sahudi (seorang dokter yang meneliti tentang pengaruh penggunaan alat ECCT terhadap sel kanker) mempresentasikan hasil temuannya, saya (mewakili Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia – MITI) diminta moderator untuk memberikan pendapat terkait penilitian dalam  bidang medis yang dilakukan oleh peneliti non medis (engineering).

saya sangat mengapresiasi penjelasan detil bu Indira tentang data-data empiris per-kanker-an dunia dan tanah air.  sayangnya pada acara kemarin tidak ada perwakilan dari kemenkes. padahal penjelasan tersebut akan sangat baik bila juga didenarkan oleh pemerintah (kemenkes). karena banyak harapan-harapan para pejuang kanker untuk bisa tetap bertahan bahkan meningkatkan kualitas hidupnya.

adapun terkait temuan dari peneliti non medis (pak warsito purwo taruno) yang dapat diaplikasikan pada dunia medis (penyembuhan kanker), menurut saya sebuah keutungan besar bagi pemerintah -dalam melengkapi metode-metode terapi penyakit kanker yang ada saat ini (biopsi, radiasi dan kemo).  terlebih ditemukan oleh putra bangsa sendiri.

yang kedua, adalah pihak-pihak terkait (para dokter dan rumah sakit) yang seharusnya melanjutkan atau melakukan pembuktian-pembuktian hasil temuan para peneliti non medis yang terkait dengan dunia medis.  para engineer membuat alat, lalu para peneliti medis melakukan tahapan-tahapan penelitian dari awal hingga akhirnya dapat memenuhi standar medis dan dapat diaplikasikan.  alhamdulillah,  meskipun belum banyak, sudah ada beberapa dokter yang melakukan penelitian terkait hasil temuan dan inovasi p warsito purwo taruno ini (ECVT dan ECCT). salah satu diantaranya adalah Dr. Sahudi.  dan ini menurut saya sangat sesuai dengan dengan spirit para peneliti bidang apa pun. agar para peneliti dapat menolak atau menerima sebuah hasil riset melalui kaidah riset juga.

bila kedua hal di atas dilakukan dengan kolaborasi yang baik dengan semangat untuk memberikan harapan kepada umat manusia (para penderita dan pejuang kanker), saya yakin temuan mutakhir p warsito purwo taruno ini  tidak akan menjadi polemik berkepanjangan dan harapan para pejuang kanker semakin besar.

saya sangat suka dengan tag line “impossible is nothing”, karena dapat memberikan harapan bagi yang merasa tidak punya harapan lagi (hope for no hope)…

Artikel ini telah dibaca 4021 kali. Terima kasih.

Leave a Reply