Artikel ini telah dibaca 192 kali. Terima kasih.

Sebuah kapal kayu yang membawa sekitar 125 pengungsi Rohingya dari Bangladesh tenggelam di Teluk Bengal pada Selasa (11/2) kemarin. Dilaporkan 16 orang meninggal dalam kejadian itu.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/2), penyelam penjaga pantai Bangladesh berhasil mengevakuasi 14 jasad perempuan, seorang lelaki dan satu anak-anak di lokasi kejadian di dekat Pulau St. Martin.

Menurut pejabat Pulau St. Martin, Noor Ahmed, mereka berhasil menyelamatkan 62 pengungsi dari lokasi. Diduga mereka dibawa sindikat perdagangan manusia dan dalam perjalanan menuju Malaysia.

Kepala Kepolisian Cox Bazar, Iqbal Hossain, menyatakan kapal itu diduga kelebihan muatan dan tenggelam. Mereka saat ini mengirim seluruh jenazah ke Pulau Shah Porir.

Operasi pencarian terus berlangsung karena masih ada korban hilang. Sindikat perdagangan manusia kerap merayu pengungsi Rohingya dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Meski ada yang berhasil, tetapi tidak sedikit etnis Rohingya yang bernasib buruk akibat terbujuk sindikat tersebut.

Terkadang mereka terlunta-lunta di tengah laut karean ditinggal sindikat atau malah ditangkap oleh penjaga pantai.

Sampai saat ini dilaporkan ada lebih dari 700 ribu etnis Rohingya kabur ke Bangladesh. Mereka menghindari aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan dan kelompok radikal Myanmar di Negara Bagian Rakhine sejak Agustus 2017.

Myanmar mengklaim etnis Rohingya bukan warga negara mereka, dan menganggapnya sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Padahal mereka sudah hidup lebih dari seratus tahun di Myanmar.

Undang-undang kewarganegaraan Myanmar yang disahkan pada 1982 tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga negara. Akibatnya, mereka mengalami diskriminasi dan tidak mendapatkan fasilitas apapun dari negara. (ayp/ayp)

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 192 kali. Terima kasih.

Leave a Reply