Artikel ini telah dibaca 813 kali. Terima kasih.

Jakarta, CNN Indonesia — Para ahli epidemiologi menyebut faktor penting pencegahan infeksi virus corona ketika penularan sudah pula melalui udara atau airborne adalah, memperhatikan sirkulasi udara dan sinar ultraviolet. Dua pokok ini penting diperhatikan selain protokol umum kesehatan seperti menjaga jarak fisik (physical distancing), menggunakan masker dan memastikan kebersihan tangan.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi penyebaran virus corona bisa terjadi melalui udara atau airborne. Pernyataan ini merespons publikasi 239 ilmuwan dari 32 negara yang mendesak WHO lebih terbuka soal penyebaran virus.

Apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan ketika virus menyebar melalui udara atau airborne?

Para ahli dalam laporan New York Times menyarankan agar sebisa mungkin kegiatan dilakukan di luar ruangan. Meskipun ada banyak orang ketika di pantai atau taman, tapi menurut ahli kondisi ini lebih baik dibanding di dalam rungan seperti pub atau restoran. Apalagi dengan banyak orang dan sirkulasi udara yang buruk.

Tapi ahli mengingatkan, saat di luar ruangan pun Anda wajib menggunakan masker dan menjaga jarak fisik.

“Ketika di dalam ruangan, satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah sebisa mungkin membuka jendela dan pintu,” saran Linsey Marr yang merupakan ahli bidang aerosol di Virginia Tech dikutip dari New York Times.

Selain itu Anda juga bisa meningkatkan filter pada sistem pendingin udara (AC) dan menyesuaikan pengaturan untuk lebih banyak menggunakan udara segar demi sirkulasi yang sehat.

Ilustrasi: Orang yang bekerja di ruang tertutup penting untuk memastikan sirkulasi udara mengingat WHO mengonfirmasi penyebaran virus corona bisa lewat udara atau airborne. (Foto: CNN Indonesia/ Safir Makki)

Senada diungkapkan para epidemiolog Indonesia, soal pentingnya menjaga sirkulasi dalam ruangan. Ahli epidemiologi dan biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Pandu Riono menekankan pentingnya sirkulasi udara dan cahaya matahari ketika di ruang tertutup.

Kalaupun berada di ruang ber-AC, sebaiknya menggunakan fasilitas filter.

“Jadi AC itu harus ada AC yang khusus, jangan yang sirkulasi tertutup tapi sirkulasi keluar,” kata Pandu kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

“Yang kedua, yang untuk membunuh [virus] itu kan ultraviolet. Kalau di rumah sakit kan ada lampunya, yang di pojok itu. Kalau di luar [rumah sakit] ya ada cahaya matahari masuk. Nah, itu jangan sampai nggak ada cahaya matahari. Sering dibuka, harus ada sirkulasi,” Pandu menekankan.

Ahli epidemiologi yang juga Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio menjelaskan ruangan tertutup memungkinkan konsentrasi virus meningkat. Apalagi ketika ruang tertutup itu memiliki sirkulasi udara yang buruk.

Karena itu, pengaturan ventilasi agar memungkinkan udara segar yang masuk penting diperhatikan.

“Aliran udaranya harus diusahakan ada udara segar yang masuk yang bersih, tidak diputar, karena kalau udaranya diputar di situ-situ saja maka konsentrasi virusnya akan semakin tinggi,” tutur Amin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/7) malam.

Memastikan menjaga jarak fisik memang penting, tapi jika sirkulasi udara di dalam ruangan tersebut buruk maka menurut Amin konsentrasi virus pun berpotensi masih tinggi.

“Tapi tetap, kalau udaranya diputar di situ-situ saja, walaupun duduknya jauh-jauh, tetap saja bisa terbang si virusnya.”

Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Yang Harus Ada di Tas untuk Mencegah Corona

Soal peningkatan ventilasi untuk menekan risiko ini juga diutarakan ahli kimia dari University of Colorado, Jose-Luis Jimenez. Di ruang tertutup seperti sekolah, kantor dan rumah sakit, ventilasi yang baik didapat dengan membuka jendela secara berkala.

“Untuk ruang di mana ventilasi tak dapat ditingkatkan, kami merekomendasikan filter pembersih udara dengan efisiensi tinggi (HEPA) portabel atau lampu UV yang memungkinkan untuk membunuh kuman. Kami tidak merekomendasikan jenis pembersih udara lainnya,” kata Jimenez dikutip dari Aljazeera.

Sejalan dengan laporan New York Times yang menulis bahwa ada baiknya gedung publik atau perkantoran berinvestasi pada air purifiers atau filter dan sinar ultraviolet yang bisa membunuh virus. Don Milton, seorang ahli aerosol dari University of Maryland mencontohkan, lift mungkin akan menjadi salah satu spot yang berisiko tinggi.

Namun begitu jika hal-hal tersebut tak memungkinkan untuk dilakukan, ahli menyarankan untuk meminimalkan menghabiskan waktu di ruangan tertutup. Semakin lama Anda menghabiskan waktu di dalam, kian tinggi dosis virus yang mungkin Anda hirup.(NMA)

Artikel ini telah dibaca 813 kali. Terima kasih.

Leave a Reply