Artikel ini telah dibaca 131 kali. Terima kasih.

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah studi menganalisa hubungan antara penyebaran virus corona (Covid-19) dengan wabah demam berdarah di masa lalu. Di mana paparan penyakit karena nyamuk aedes aegypti ternyata bisa memberikan kekebalan terhadap Covid-19.

Fakta baru ini diungkap Reuters dari studi yang belum dipublikasikan seorang profesor di Universitas Duke, Miguel Nicolelis. Ia membandingkan distribusi geografis kasus Covid-19 dengan penyebaran demam berdarah pada 2019 dan 2020.

Tempat-tempat dengan tingkat infeksi corona yang lebih rendah dan pertumbuhan kasus lambat merupakan lokasi yang mengalami wabah demam berdarah yang hebat. Menurutnya ada kemungkinan menarik dari reaktivitas silang imunologis antara serotipe Flavivirus demam berdarah dan SARS-CoV-2 (corona).

Di negara bagian seperti Paraná, Santa Catarina, Rio Grande do Sul, Mato Grosso do Sul dan Minas Gerais, dengan insiden demam berdarah yang tinggi tahun lalu dan awal tahun ini, Covid-19 membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tingkat penularan komunitas yang tinggi. Ini berbeda dengan negara bagian lain seperti Amapá, Maranhão dan Pará yang memiliki lebih sedikit kasus demam berdarah.

Timnya juga menemukan hubungan serupa di negara bagian lain di Amerika Latin. Termasuk Asia dan pulau-pulau di Pasifik dan Samudra Hindia.

“Jika terbukti benar, hipotesis ini dapat berarti bahwa infeksi dengue atau imunisasi dengan vaksin dengue yang manjur dan aman dapat menghasilkan beberapa tingkat perlindungan imunologis terhadap corona,” ujarnya sebagaimana ditulis Reuters, Selasa (22/9/2020).

Ia pun mendasarkan hasil ini pada penelitian sebelumnya. Menurutnya, riset pernah menunjukkan bahwa seseorang dengan antibodi demam berdarah dalam darah dapat terbukti positif palsu untuk antibodi Covid-19 meskipun tidak pernah terinfeksi virus yang pertama kali merebak di Wuhan, China.

“Ini menunjukkan bahwa ada interaksi imunologis antara dua virus yang tidak dapat diduga oleh siapa pun, karena kedua virus tersebut berasal dari keluarga yang sama sekali berbeda,” kata Nicolelis lagi.

Meski begitu, ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hubungan tersebut. Penelitiannya sendiri akan dipublikasikan setelah melewati review awal oleh MedRxiv dan akan dimuat di jurnal ilmiah.

Brasil merupakan negara ketiga terbanyak kasus Covid-19, di mana ada 4,4 juta kasus. Saat ini kasus corona global sudah mencapai 31 juta jiwa di seluruh dunia.

Artikel ini telah dibaca 131 kali. Terima kasih.

Leave a Reply