Artikel ini telah dibaca 6000 kali. Terima kasih.

Iya, betul… cinta… cinta… dalam potongan sebuah lirik lagu ada tertulis seperti berikut:

            cinta adalah misteri…

            dalam hidupku…

            yang tak pernah ku tahu akhirnya…

(ada yg bisa nebak, lagunya siapa, apa judulnya dan yg nyanyiin siapa?)

yg sering kita denger juga cinta itu buta dan cinta itu irrasional… rumus matematika umumnya tidak bisa dipake kalo sudah nyentuh soal cinta… apa pun dilakukan demi menunjukkan rasa cintrong ke pasangannya masing-2… ada sebuah pengorbanan yg dilakukan oleh para pecinta itu… believe it or not itulah faktanya…

tapi hari gini ngomongin soal cintrong? Di pabrik pula?  Apa ndak salah? Ndak salah, man! Dan mengapa tidak? Cinta tidak mengenal batas waktu dan wilayah… di mana pun cinta bisa terjadi… ndak percaya? Saya yakin, (mohon dibaca dengan berbisik) sekarang ini di antara para pembaca sekalian pasti ada yg sedang jatuh cinta… he… he.. he.. tapi tunggu dulu! Bukan kisah percintaan antar anak adam di pabrik yg ingin saya bahas. Lebih dari sekedar itu… yaitu, kisah cintanya orang-2 yg kerja di pabrik dengan pabriknya… capek, deh… *smile*

pabrik kita akan hidup bila kita semua punya benih cinta di awalnya… kemudian bila benih cinta itu kita pupuk dan pelihara dengan tekun dan penuh kesabaran, maka pabrik ini akan dapat mengeluarkan atau memancarkan aura kekuatan… yg akan tampak pada kualitas sdm dan produk-2 yg dihasilkannya. tapi sayangnya, tidak semua dari kita memiliki rasa cinta itu… kalaupun memilikinya, kita tidak menyadarinya… sehingga keberadaan kita di dalam pabrik biasa-2 saja dan tidak dapat memberikan dampak yg sangat positif. Terburuknya adalah mental absent  (silahkan refer tulisan saya ttg mental absent sebelumnya).

Sama persis dg para pecinta yg saling berusaha berkorban utk membuktikan cinta-2nya. Ketika kita punya rasa cinta di dalam pabrik ini, maka tanpa harus diminta atau direngek-2, atau minta diundang secara formal dengan email atau lisan, atau dengan biroktrasi-2 yg menyulitkan, atau (biar dicap aku “dibutuhkan”) harus pejabat tinggi yg ngundang (baru gerak), kita pasti tergerak akan melakukan kaizen-2 (improvement) utk meningkatkan kualitas, produktifitas, keselamatan kerja, etika/moral lingkungan di mana kita bekerja dll. Apa saja… semua akan kita lakukan dengan sendirinya dan dengan inisiatif serta kepedulian yang tinggi, saat kita melihat ada sesuatu yg harus di-improve, di-kaizen, di-safety-kan dll. Ketika kita punya rasa cinta, kita tidak mungkin akan membiarkan line beroperasi secara abnormal… tidak mungkin membiarkan anak buah kita bekerja dengan proses (gerakan) yang menyulitkan… tidak mungkin membiarkan proses berbahaya terjadi… tidak mungkin dan tidak mungkin lainnya….

yang diinginkan percintaannya model romeo and juliet (karya William Shakespeare yg dipentaskan pertama kali pada tanggal 29 Januari 1595)… bukan percintaan seperti yg ada di kisah siti nurbaya (karangan Marah Roesli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di era 1920’an)… cinta baru akan bisa dirasakan atau ada gregetnya ketika terjadi reaksi yg reversible (timbal balik) antara 2 unsur senyawa, yaitu romeo dan juliet. Ketika yg terjadi adalah reakasi irreversible (satu arah), seperti yg dialami oleh siti nurbaya dengan pasangan tua-nya datuk maringgih, maka cinta dan hidupnya akan menjadi hampa. Meskipun si datuk maringgih ini seorang konglomerat… *smile*

ketika kita ingin memunculkan sebuah aura kekuatan dalam sebuah perusahaan, maka harus ada 2 unsur yg direaksikan secara 2 arah atau timbal balik. Kedua unsur itu adalah pekerja dan manajemen. Keduanya memiliki peran yg sangat penting. Tidak bisa hanya salah satu saja yg dipaksa untuk mencintai. Perhatian dan pelayanan yg baik kepada pekerja oleh manajemen akan membuat pekerja semakin mencintai perusahaan hingga mencapai maqam (level) tertinggi, yaitu dengan ditandai muculnya jiwa berkorban.

Perhatian dan pelayanan manajemen terhadap pekerja dapat berupa pengadaan tempat-2 kerja yg nyaman dan aman, memikirkan jenjang karir, memberikan training atau edukasi sesuai dengan level dan kebutuhan perusahaan, memberikan konseling, menyajikan menu makanan sesuai dengan standar gizi yg diperlukan oleh pekerja, bonus/reward dan lain-lain. Ketika hal-hal tsb sudah dilakukan oleh manajemen, tidak ada alasan bagi pekerja untuk tidak membalasnya dengan kinerja dan kedisiplinan yg baik dan selalu siap menerima tugas-2 dibebankan sebagai wujud dari rasa cinta terhadap perusahaan. Take and give gitu, lho…

masih ingat tulisan tentang “indera ke enam” yg saya kirim beberapa waktu yg lalu (agustus 2010) ? indera ke enam itu kepedulian. Kepedulian itu dasarnya adalah cinta. Tanpa cinta, tidak akan pernah ada indera ke enam. Bila kepedulian kita tidak tajam, itu karena cinta kita redup karena tidak kita pupuki atau dipupuki atau tidak kita rawati atau dirawati dengan baik dan benar. Dasar dari pada kepedulian itu adalah karena adanya rasa cinta… no love no carethat the cintrong was

Artikel ini telah dibaca 6000 kali. Terima kasih.

Leave a Reply