Artikel ini telah dibaca 5791 kali. Terima kasih.

lightBeberapa waktu yang lalu saya pernah menyampaikan tentang kekuatan mieruka. Dimana dengan kekuatan itu kaizen dapat dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien. Arah kaizennya jelas. Tidak meraba-raba seperti saat kita berjalan dikegelapan malam yang tak berbintang… Kali ini saya akan sampaikan next stagenya dari mieruka. Yaitu m i s e r u k a.

Baik mieruka maupun miseruka memiliki akar kata dasar yang sama, yaitu miru (melihat). Mieru bermakna bisa terlihat dan miseru artinya memperlihatkan. Sedangkan “ka” yang ada di ekor kata bermakna sebuah perubahan dalam sebuah proses. Jadi miseruka memiliki arti sebuah proses untuk memperlihatkan sesuatu. Kalo dilihat dari artinya mungkin sangat mudah dipahami dan kita begitu yakin bisa melakukannya. Tapi tunggu dulu! Tergantung dari “sesuatu” nya itu apa.  Dalam prakteknya tidak semudah yang kita bayangkan. Apalagi kalau kita disuruh memperlihatkan keburukan-2 atau kekurangan-2 yang kita miliki. Menunjukkan bahwa line kita ada masalah, pokayoke yang kita buat ada masalah, finish good yang kita buat ada cacatnya, claim yang terjadi disebabkan karena proses kita dan lain-lain adalah sangat sulit. Mengapa? Karena secara fitrah atau nature, manusia itu cenderung untuk menyembunyikan segala sesuatu yang buruk agar tidak diketahui oleh orang lain. Juga secara alami enggan untuk men-sharing kebaikan-2 kepada orang lain. Apalagi bila itu terkait dengan suatu bisnis yang sangat menguntungkan. Manusia akan meng-keep segala informasi yang dipunyainya supaya tidak jatuh ke tangan orang lain sehingga dapat di-copy as is it (sebagaimana adanya).

Toyota Way mengajarkan – bahkan sudah menjadi suatu kewajiban dasar yang harus dilakukan – kepada semua karyawannya utk me-miseruka-kan segala kebaikan dan keburukan yang tejadi di perusahaannya kepada siapa pun dalam lingkungan internal perusahaan, khususnya kepada seksi-seki atau line-line yang terkait. Khususnya hal-hal yang buruk. Tujuan dari me-miseruka-kan hal-hal yang buruk adalah agar setiap karyawan dapat segera melakukan aktifitas kaizen, baik yang sifatnya koreksi maupun pencegahan dan baik yang sifatnya sementara atau permanen. Sedangkan utk hal-hal yang sudah baik ditujukan hanya agar dapat di-yokotenkai-kan saja.

Ingat! Yang di-miseruka-kan adalah bukan kesalahan-kesalahan yang diperbuat atau dilakukan oleh orang lain, tapi kesalahan-kesalahan yang diperbuat atau dilakukan oleh kita, line kita, seksi kita, departemen kita, divisi kita dan perusahaan kita sendiri. Yang umum terjadi di pabrik atau organisasi apa saja kita cenderung mengalihkan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya kita lakukan sendiri kepada orang lain atau seksi lain. Dengan alasan seperti penjelasan di atas. Kita berusaha mati-matian agar masalahnya jatuh ke orang lain supaya kita terbebas dari tanggung jawab. Kita berusaha sekuat tenaga membentengi diri agar tidak disalahkan. Kita berusaha melakukan tricky (jebakan-jebakan) agar opini kesalahan menjauh dari diri kita. Dan anehnya bila tricky-tricky itu berhasil, kita pun merasa puas!

Keenganan kita me-miseruka-kan sesuatu secara jujur berkakibat pada hal-hal berikut.

1.   Banyak waktu yang terbuang

Hal ini disebabkan karena kita berusaha untuk berputar-putar dalam membangun opini yang tidak pada tempatnya. bukan diri kita saja yang telah banyak membuang waktu, tapi orang lain (para peserta diskusi) pun mengalami hal yang sama. Bisa dibayangkan bila yang mengikuti diskusi itu jumlahnya cukup banyak…

2.   Banyak orang yang dirugikan

Orang lain yang tidak tahu menahu tentang masalah yang terjadi menjadi terbebani karena harus membuat laporan dan kaizen-kaizen yang tidak perlu.

3.   Membuat hubungan menjadi tidak harmonis

Saling salah menyalahkan pada akhirnya akan membuat suasa hati menjadi tidak tenang. Apabila hal ini terus berlarut, kerenggangan hubungan akan muncul. Interkasi dan komunikasi menjadi terhambat.

4.   Melemahkan kolaborasi

Ini adalah sebagai konsekuensi dari hubungan yang tidak harmonis, yang berjalan dalam waktu yang lama. Masing-masing dari kita atau seksi terkait menjadi enggan untuk  melakukan diskusi-diskusi problem solving atau pun kaizen.

 5.   Salah arah dalam melakukan kaizen

Kaizen yang seharusnya dilakukan adalah A, tetapi karena kita berusaha menggiring opini ke B maka kaizen yang kita lakukan adalah B. tentu saja membuat kaizen yang kita lakukan menjadi tidak ada artinya.

6.   Tidak dapat menjamin kualitas produk

Bagaimana kita bisa mejamin kualitas produk bila fokus kaizen yang kita lakukan salah atau bukan pada tempat yang seharusnya di-kaizen? Kaizen seharusnya dilakukan di line A, tetapi karena opininya digiring ke line B, maka kita melakukan kaizen di line A yang sebenarnya sudah baik dan tidak adalah masalah apa pun. Di satu sisi, barang-barang yang dihasilkan dari line B menjadi tidak terjamin kualitasnya.

7.   Banyak biaya yang terbuang

Dalam setiap kaizen pasti diperlukan biaya, baik secara langsung maupun tidak langsung (ada proses konversi terlebih dahulu). Bila kaizen yang kita lakukan salah, sudah barang tentu semua biaya yang telah kita keluarkan untuk itu menjadi sia-sia!

Bila kita sudah tahu ke 7 dampak di atas, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak melakukan miseruka secara jujur di mana saja kita berada dalam sebuah komunitas…

Artikel ini telah dibaca 5791 kali. Terima kasih.

Leave a Reply