Artikel ini telah dibaca 5077 kali. Terima kasih.

image

Sesekali saya nengok ke abang yang duduk di sebelah kiri saya. untuk memastikan dia masih melek. bukan kenapa. biasanya setiap pulang sekolah dia selalu tidur karena kecapaian.  di mobil dia simpan tenaga sejenak agar malamnya bisa mengikuti kursus bahasa inggrisnya dengan kepala tegak, alias tidak ngantuk. he… he… he…

abang masih on… sepertinya dia tertarik dengan apa yang sedang kita diskusikan. terus terang tigak mudah untuk mencari tema diskusi dengan anak-anak seusia abang yang baru aja 17 tahun. usia dimana tingkat kekritisan mereka sangat tinggi. mereka serba ingin tahu apa alasannya harus begini dan tidak boleh begitu… mereka akan terus mencoba mencari jawaban yang menurutnya masuk akal karena memang yang mendominasi pada usia-usia seperti abang adalah kecerdasan intelejensinya saja… kita para orang tua harus mengetahui perkembangan kejiwaan anak-anak kita agar tidak salah dalam memberikan pengarahan-pengarahan.  demotivasi anak akan muncul manakala kita salah dalam memberikan pengarahan…

saya menjelaskan ke abang tentang sebagian sisi positif dari masyarakat jepang. selanjutnya saya masuk ke dalam diskusi jenis kecerdasan lainnya…

saya: “yang tadi itu sisi positif masyarakat jepang, bang… tapi mereka juga punya kelemahan…”

abang: “apaan?”

saya: “mereka itu baik dalam hal kecerdasan intelejensi dan emosional. mereka selalu berpikir logis dan berempati. segala perencanaan apa pun mereka buat sesempurna mungkin. segala kemungkinan yang bisa menyebabkan rencana mereka gagal, mereka analisa dan mereka cari countermeasure nya apa. mereka punya istilah mangaichi (dibaca: man-ga-ichi).  abang pernah dengar istilah itu kan di anime-anime yang sering abang tonton?”

abang: “iya, tahu… artinya 1 per 10000 kemungkinan, kan?”

saya: “betul.  abang bisa bayangin, kan? umumnya kita hanya mikir 1 per 100 kemungkinan aja. tapi mereka mikirnya hingga 1 per 10000 kemungkinan. sehingga rasio kegagalan mereka gimana menurut abang?”

abang: “ya semakin kecillah… apa yang mereka rencanakan lebih besar kemungkinan berhasilnya… ”

saya: “betul yang abang sampein… mereka begitu yakin bahwa semuanya sudah on the track alias tepat.  sehingga mereka meyakini pasti berhasil… tidak ada alasan untuk gagal… ”

abang: “iya…”

saya: “tapi, bang… abang tahu kan jisatsu dan harakiri?

abang: “tahulah… jisatsu itu bunuh diri… harakiri itu potong perut. bunuh diri juga… ”

saya: “ketika rencana mereka gagal… dan ketika mereka tidak menemukan jawaban atas kegagalan tersebut, tidak jarang mereka melakukan bunuh diri… karena tidak ingin menerima kenyatan itu… atau malu terhadap masyarakat atas kegagalan yang telah mereka lakukan…”

abang: “kok gitu, sih?”

Bagian selanjutnya…

bagian 1: http://www.candra.us/2014/09/24/tiga-kecerdasan-1/

bagian 2: http://www.candra.us/2014/09/25/tiga-kecerdasan-2/

Artikel ini telah dibaca 5077 kali. Terima kasih.

Leave a Reply