Artikel ini telah dibaca 551 kali. Terima kasih.

Ini adalah kisah nyata seorang kakek yang memiliki 3 orang cucu, yang mengikuti sebuah lomba lari sejauh 320 km dengan batas waktu maksimal 70 jam. Dan kakek ini berhasil finish dengan waktu 63 jam.

Luar biasa!

Semoga bisa memotivasi kita semua agar terus berolahraga rutin agar tubuh selalu dalam kondisi sehat.

Selamat membaca…


Negara menjadi maju bila pemimpin dan warga negaranya mau bekerja keras. Hasil selalu mengikuti proses. Hukum sebab akibat berlaku. No gain without pain kata paman Sam. Sunnatullah bahasa agamanya. Ikhtiar mendahului tawakkal.

Setelah melalui proses latihan “cukup berat”, pada saat race Tambora Challenge 320 K, niatnya adalah “alon-alon waton finish”, yg penting bisa finish strong, tanpa cidera sehingga 160 Km pertama msh “hati2” banget alias santai.
Setiap berhenti di Check Point per 40 Km, stretching sendiri dan makan menghabiskan waktu 1 jam, plus tidur 1 jam di Km 160 sehingga saat check out dari Km 160, waktu terpakai sdh 33,5 jam.

Posisi saat itu di urutan belasan. Ketinggalan 6-8 jam dr kelompok 5 besar terdepan.

Merasa msh fresh dan blm capek, mulailah “pengejaran” dilakukan.

Km 160-200 ditempuh 6 jam, melewati bbrp pelari di depan, msh sempat stretching dan makan di Km 200.

Km 200-240 sdg panas2nya ditempuh 7 jam dan sesampainya di Km 240 msh sempat terlihat Matheos, William Lesmana, Eni Rosita dan Christine Gautama (relay), William Binjai gak terlihat, sdh cukup lama meninggalkan Km 240.

Saat msh stretching, mereka satu persatu pamit meninggalkan Km 240. Setelah makan dan sholat jamak dzuhur dan ashar, tertinggal 1 jam baru menyusul mereka, saat itu posisi di 5 besar all category individu.

“Fighting Spirit” kakek gak terbendung lagi, tanjakan maut selepas Km 240 dilalap power walk serasa latihan di tanjakan Boyong-Kaliurang.
Saat jalan menurun, berlari terus serasa latihan, melewati William Lesmana sekitar Km 255, bbrp ratus meter kmdn melewati Christine Gautama (relay).
Keluar dr WS Km 260 sdh di posisi 3.
Eni Rosita msh di WS.
Di depan ada Matheos 10 menit duluan, sedangkan William Binjai 2 jam lbh mendahului.
Ketemu Matheos di Km 268, lalu berjalan bersama sampe WS Km 270.
Check out Km 270 di posisi 2, Matheos istirahat memulihkan kaki.
Tanjakan maut, angin kencang dr atas dan gelap gulita membuat 10 km rasanya jauh sekali.
Sampe CP Km 280 sekitar jam 00:40.
Saat stretching, muncul Matheos menyusul.

Gak sempat makan krn team support datang terlambat (salahnya sendiri kenapa cepat2, kata team support di finish line, yg ternyata datang 1jam kmdn😭😭😭).

Check out dr Km 280 sekitar jam 01:00 kurang, terus berlari, saat tanjakan tajam baru power walk. Krn hanya tidur 1 jam dan makan 6x selama 4 hari 3 malam, dalam suasana gelap gulita, headlamp yg redup, maka mulailah halusinasi terjadi.
Asap bakaran sampah jadi naga2an.
Rumput2 di tepi jalan jadi ular2 bergerak.
Pohon semua berbentuk monster dan bergerak (akibat hobby nonton nkali ya🙄🙄🙄).
Setiap ada yg aneh langsung disenteri, sambil bergerak terus. Dikejar anjing 2x sampe ratusan meter (yg ini beneran lho, bukan halusinasi😛😛😛).
Digonggong belasan kali. Paling juga dikira oleh anjing ada monster lewat, lha kepalanya bersinar2….pake headlamp.
Rasanya lama banget mau ketemu WS berikutnya dg jalan tanjakan dan turunan, blm lagi ada perbaikan jalan yg bisa menciderai ankle.

Sesampainya di WS Km 310, ditanya petugas WS : ” 10 km lagi, siap bapak? Di blkg ada Matheos dan Ari menyusul”.

Waduh🤑🤑🤑, mereka pelari cepat semua, pantang menyerah, maka ngebutlah sang kakek ambil pace 5 dr Km 310 ke Finish. Sehingga sampe finish agak”oyong”, berbahagialah sang kakek disambut sang nenek sblm finish line😍😍😍.

160 Km kedua ditempuh 29,74 jam, lbh cepat dr 160 Km pertama yg ditempuh 33,5 jam.
Total 63 jam 14 menit, dr jatah COT 72 jam, legaaaaa…..
Alhamdulillah…

Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada :

  1. Harian Kompas.
  2. Pak Budiman Tanuredjo, Pemred Kompas yg sll memberi semangat.
  3. Om Lexi Rohi, selaku Race Director beserta seluruh staf yg luar biasa.
  4. Seluruh teman2 sesama pelari yg luar biasa dan saling memberi semangat.
  5. Khusus teriring doa utk Bang Dohar, semoga Rest In Peace, kami akan selalu mengenangmu yg ramah, murah senyum, motivator. Pokoknya top deh😍😍😍

Artikel Asli

Artikel ini telah dibaca 551 kali. Terima kasih.

Leave a Reply