Artikel ini telah dibaca 8707 kali. Terima kasih.

Bukan “elo” or “elu” yang lawan katanya “gua”. Juga bukan ekspresi terkejut atau heran “lho!?”. Ini singkatan yg sering dipakai orang utk menyingkat “learning organization” ( l o, speeling el o).

Hari ini, spt biasa saya ke ipb (institut pertanian bogor) untuk menghadiri kuliah eksekutif program pasca sarjana s3 doktor management and bisnis. Kebetulan jam pertamananya ttg teori organisasi (to) yang diajar oleh senior profersor ipb, pak syafrie. Seumur hidup, saya belum pernah belajar ttg to. Karenanya saya begitu antusias berangkat pagi-2 dari kota wisata supaya tdk terlambat.

Oya, kuliah ini hanya hari sabtu saja and full day school dari jam 8:00 sampai jam 18:00. Saya masuk di angkatan ke 4 (started on april 2008). Jumlah siswa 34 orang yg umumnya para pemegang kebijakan di perusahaannya masing-2. Ada dirut bph migas, dirut ibm, senior staff (gm) telkomsel, astra internasional, hsbc, bakrie grup, para dosen dari ui dan universitas2 lainnya. Sy menjadikan ini komunitas ke 3 yg perlu dibina setelah dnia. Kadang, human networking lebih penting ketimbang internet networking yg pernah sy pelajari. Karena suatu hari ia lebih bisa menjadi kekuatan pendukung bagi hidup dan karir kita bila dibina sebaik mungkin dg mengikuti kaidah-2 “pcc” or “sop” yang benar dan profesional. Bukan dng cara abs, kkn dsj…

Dan karena aktifitas setiap sabtu ini juga lah, saya masih belum bisa memenuhi ajakan rekan-2 sejawat utk ber-golf ria di hari sabtu. Kl main golfnya sabtu malam, mungkin bisa saya pertimbangkan. 😉 anyway, saya sangat appreciate kepada rekan-2 yg sudah menawarkan diri sebagai pelatih private driving bila suatu saat diperlukan… mudah-2an tawarannya tidak berubah… 😀

Tiba-2 prof. Syafrie membagikan kertas ke mahasiswa. Katanya, beliau suka mengadakan quiz dadakan. Cuman 2 soal, ttg kondisi lo yg ada di indonesia dan apa yg harus dilakukan thd perusahaan-2 tsb dalam mengadapi turbulensi ekonomi global saat ini. Waktunya hanya 15 menit & harus tulisan tangan. Hmm… runyam! Tau masalahnya pun tidak, pula disuruh tulis dg tangan. Bah! macam apa pula ini dosen. Barengsek sakali! Hati saya mengomel dg logat batak.

“saya tahu, anda semua tidak tahu secara pasti ttg apa itu learning organization. Tapi dari keyword learning anda bisa mereka-reka apa itu learning organization,” prof. Syafrie membuka perkuliahan jam pertama.

Saya pun langsung tancap gas, menjawab pertanyaan nomor 1. For you information, tulisan latin tangan saya mirip tulisan dokter yg ada di resep-2 obat. Tapi masih berada diambang batas antara bisa terbaca dan tidak. Just in case, karena dosennya sudah uzur (lansia), saya putuskan menggunakan tulisan cetak dengan huruf besar semua. Berlawanan dg tulisan saya di komputer yg selalu always tidak pernah never menggunakan huruf kecil. (kalo ada huruf gede di tulisan ini, itu karena ulah microsoft office yg menjalankan auto correction). Dan 15 menit kemudian…

“waktunya habis… mohon dikumpulkan semuanya..,” prof. Syafie memecahkan keheningan pagi yang cepat menjadi suram gara-2 quiz dadakan ini….

untung saya bisa menjawab kedua pertanyaan tadi. Meskipun singkat yg penting padat dan to the point serta disesuaikan dg tenaga tangan yg hampir tidak terpakai selama 10-an thn utk menulis.

Setelah itu, 4 orang dipanggil secara acak. Mereka dipersilahkan duduk di meja panel yg telah tersedia. Mereka diminta menjelaskan jawaban-2 yg mereka tulis barusan untuk dijadikan bahan diskusi. Yg ketiban pulung adalah dirut bph migas, dirut sebuah perusahaan konsultan bidang sdm, dosen ppm dan dosen paramadina.

Diskusi pun berjalan seru dan heroik lebih kurang 30 menit. Apa yg saya tulis tadi tidak meleset dari perkiraan. Thanks god….

Mungkin banyak dari kita yg juga dapat mereka-reka apa itu lo dari keyword “learning” nya. Arti secara harafiahnya lebih kurang organisasi pembelajar. Dalam contoh perusahaan yg saya angkat di jawaban adalah denso indonesia (dnia). Meskipun saya baru 1 thn lebih sedikit bekerja di dnia, saya dapat memastikan bahwa dnia adalah salah perusaaan yg masuk dalam kategori lo. Parameter yg saya gunakan sangat sederhana utk menentukan apakah suatu perusahaan tsb masuk ke dalam kategori lo atau tidak. Yaitu dengan jangka waktu ke-eksis-an perusahaan itu beroperasi.

Dnia sudah 30-an thn berdiri. Dan selama dalam perjalannya saya sangat yakin sekali perusahaan kita mengalami berbagai macam tantangan-tantangan dan hambatan-hambatan datang silih berganti. Krisis ekonomi yg pernah terjadi dg siklus 10-an thn di negara kita thn 1987, 1997 dan krisi ekonomi global yg terjadi baru-2 ini (oktober 2008) telah dapat dilalui dengan baik. Hal ini ditandai dengan tetap bertenggernya dnia. Kalaulah dnia bukan perusahaan yg masuk dalam kategori lo, pastilah ia akan kolaps ketika menghadapi turbulensi-2 tadi. Atau dapat bertahan pada kurun waktu tertentu saja. Bangkrut pada akhirnya. Dnia secara pasti membuktikan bahwa dia adalah salah organisasi pembelajar terbaik yang ada di indonesia.

Juga, boleh jadi, selama ini kita tidak memikirkan ttg lo. Tapi actualnya kita sudah dan sedang melakukannya baik secara organisasi maupun personal dalam kehidupan sehari-2. Bukti kongkrit bahwa kita secara personal sudah melaksanakan apa yg ada di lo adalah dengan beradanya kita di dnia ini. Kalo kita hanya orang yg pas-2an secara skil dan personalitas, perusahaan ini tidak akan memberikan tempat utk kita semua. Betul atau betul?

Pendidikan-2 (non) formal yg telah kita lakukan adalah salah satu cara kita dalam memenuhi apa yang ada di lo. Menulis ss juga lo, melakukan qcc juga aktifitas yg mendukung lo, lapor dg cepat kl ada abnormal juga ciri-2 lo dll…

Dalam lo ada beberapa karakteristik yg dijadikan ciri-2 utamanya. Mengingat keterbatasan waktu dan kebetahan/ketahanan orang dalam membaca tulisan sambil duduk, maka saya akan jelaskan satu saja. Sisanya nggak janji… 😉

Adapun karakter pertama dari lo adalah self – mastery. Ini adalah karakter individu. Definisi dari self-mastery itu adalah the ability to honestly and openly see reality as it exists; to clarify one’s personal vision. Terjemahan jawanya lebih kurang kemampuan utk berbuat jujur dan terbuka/lapang dada dalam melihat kenyataan apa adanya, serta kemampuan dalam mengenal dan memahami visi orang lain.

Lebih lanjut, sesiapa yang memiliki (sudah dan sedang menjalankan) ke 5 hal berikut ini, dapat dipastikan mereka memiliki ciri pertama lo.

1. Positive reinforcement from role models/managers ? kita harus memperkuat nilai-2 positif dari pimpinan yg kita jadikan sebagai panutan (bukan mr. panut-nya qa/inspection bekasi lho ya…),
2. Sharing experiences ? selalu mensharing pengalaman-2 bernilai kepada rekan dan rekin sejawat dg harapan ada nilai-2 yg bisa dicontohnya,
3. More interaction time between supervisory levels ? berinteraksi secara intens kepada para supervisor/manager, yg tujuannya memperkaya wawasan dalam menyupervisi,
4. Emphasis on feedback ? menaruh perhatian secara seksama atas kritik dan saran dari orang lain, dan tidak menganggap kritikan atau saran dari orang lain sebagai sebuah ancaman,
5. Balance work/non-work life ? menyeimbangkan kerja/hidup sehari-2 dengan mengatur waktu sedemikian rupa sehingga agar masing-2 elemen mendapatkan hak-nya secara benar. Ada waktu utk perusahaan, ada waktu utk komunitas di luar perusahaan dan ada waktu utk keluarga.

Hasil akhir atau efek dari terbentuknya karakter pertama ini adalah greater commitment to the organization and to work; less rationalization of negative events; ability to face limitations and areas for improvement; ability to deal with change. (silahkan terjemahkan kedlm bhs yang dikehendaki). ;D

Bogor, sabtu, tgl 18 oktober 2008

Artikel ini telah dibaca 8707 kali. Terima kasih.

1 Comment

  1. Hehehe….jadi ingat kemarin saat kelas Pak Sjafri…
    Terima kasih atas info dan sharing ilmu nya Pak

Leave a Reply