Artikel ini telah dibaca 6297 kali. Terima kasih.

Di dunia ini tidak ada yang statis. Semua berubah sesuai dengan sikonnya. Yang tidak berubah cuman satu. Yaitu, “perubahan” itu sendiri. Manusia berubah dari waktu ke waktu. Mulai dari bayi, anak-2, dewasa lalu tua. Kota-2 berubah. Dari kota kuno, lalu menjadi kota modern. Perusahaan pun berubah. Dulu tidak seberapa luas. Tapi kini membesar 2x lipat. Karir dan penugasan berubah seiring dengan pencapaian-2 kita. Kepribadian berubah seiring dengan lingkungan di mana kita berada. Semua berubah. Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Sayangnya, tidak semua perubahan membawa kesuksesan atau keberhasilan. Ada yang tidak sanggup menghadapi perubahan itu sendiri. Tak sanggupnya beradaptasi dengan lingkungan atau kondisi yang baru menyebabkan kita stagnan (mandek/macet) di tempat dan akhirnya gatot alias gagal total. Perubahan yang seyogyanya membawa hasil justru menukikkan kita ke landasan yang curam.

Suatu saat nanti, mau tidak mau, suka tidak suka, kita dituntut utk berubah dan harus bisa berubah agar kita tetap eksis. Jadi, bukan hanya “perubahan” yg sifatnya pasif, tapi juga “berubah”. Aktif dalam merubah diri sesuai dengan tuntutan peribadi, organisasi dan sosial masyarakat.

Dalam teori management perubahan ornganisasi (organization change management) ada beberap faktor yg menjadi penyebabkan gagalnya kita meraih sukses ketika perubahan itu datang. Salah enamnya penyebab itu adalah:

Pertama: kepemimpinan (leadership) yg kurang kuat
Kedua: salah dalam melihat reformasi
Ketiga: sabotase di tengah jalan
Keempat: komunikasi yang kuran lancar
Kelima: anggota organisasi yang kurang mendukung
Keenam: proses “buy-in” yang tidak jalan

Bila keenam faktor di atas dimiliki oleh sebuah organisasi, maka perubahan apa pun tidak akan membuahkan hasil.

Pada sisi yang lain, secara aktif, kita ingin berubah atau merubah diri. Tapi selalu gagal dan gagal terus untuk melakukannya. Why? Banyak faktornya. Setidaknya ada 7 penyebab gagalnya kita berubah.

  1. Tidak merasa perlu berubah
  2. Tidak ada dukungan
  3. Tidak jelas visi dan strategi perubahan
  4. Hanya sebagian yang tahu
  5. Tidak semua orang mau dan mampu
  6. Perubahan yg tak putus-2, yg dapat menybabkan capek lalu frustasi
  7. Perubahan yg (maaf) anget-2 tahi ayam. Kenceng di awal, kemudian kembali ke jadul (jaman dulu) lagi

Perlu kiat-2 khusus untuk bisa berubah dan menang dalam menghadapi perubahan, langkah-2 berikut ini bisa kita lakukan dalam rangka menjawab perubahan. Antara lain:

  1. Kita harus segera berubah dengan cepat, jangan terlambat mengambil keputusan
  2. Membangun koalisi (kolaborasi), jangan egois dan sok pd
  3. Merumuskan visi dan strategi perubahan, jangan sekedar wacana dan wacana lagi
  4. Mengomunikasikan visi dan strategi, jangan disimpan dalam hati
  5. Memberdayakan setiap orang, jangan one man show
  6. Ciptakan kemenangan-2 kecil, jangan terbuai meraih hasil yg besar dalam sekejap
  7. Menjaga keberhasilan, jangan puas sehingga lepas kendali
  8. Membangun budaya baru, jangan terbius dengan budaya-2 jadul (status quo)

Sesiapa yg tidak berusaha untuk berubah dan beradaptasi dengan perubahanm maka dia akan tereliminasi oleh keadaan secara natural. Terburuknya, mati tanpa membawa apa yg dicita-2kannya… semua lenyap dan menghilang, bagaikan debu yg terhempas angin…

Change or die…

Artikel ini telah dibaca 6297 kali. Terima kasih.

2 Comments

  1. maaf pak,comment saya tdk ada hubungnNy dng postingan blog diatas…Apakah bpk alumni PENS-ITS??
    Dlu bpk ambil jur apa??

    Saya mahasiswa PENS-ITS jur Elektronika

    1. Author

      betul… saya dulu jurusan elka… maaf, telat responnya…

Leave a Reply